Dari LinkedIn ke Panggung Dunia: Kisah Luc de Fougerolles, Bek Muda Kanada yang Bersinar di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Luc de Fougerolles, bek 20 tahun Kanada, menjadi sorotan setelah tampil gemilang di Piala Dunia 2026 dan memuncaki peringkat FIFA untuk kategori bertahan.
- Kariernya melejit setelah sang ayah menghubungi asisten pelatih Kanada via LinkedIn lima tahun lalu, membuka jalan menuju tim nasional.
- Dengan Kanada melaju ke babak 16 besar, De Fougerolles bersaing memperebutkan tempat inti dan masuk nominasi Pemain Muda Terbaik FIFA.

Seorang pemuda berusia 20 tahun yang lahir di London kini menjadi andalan lini belakang Kanada di Piala Dunia 2026. Luc de Fougerolles, bek tengah yang baru setahun membela tim senior Fulham, sukses mencuri perhatian setelah tampil konsisten di fase grup dan membawa timnya lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Perjalanan De Fougerolles menuju panggung terbesar sepak bola dunia terbilang unik. Lima tahun lalu, ayahnya, Jean, mengirim pesan di LinkedIn kepada Mauro Biello, yang saat itu menjadi asisten pelatih Kanada. Pesan itu berisi informasi tentang putranya yang memenuhi syarat membela tim nasional. Langkah tersebut membuahkan hasil: De Fougerolles menjalani debut internasionalnya pada Maret 2024 dalam laga play-off kualifikasi Copa America.
Sejak saat itu, ia menjadi bagian tak terpisahkan dari skuad asuhan Jesse Marsch. Cedera yang dialami Moise Bombito membuat De Fougerolles naik ke posisi starter, berduet dengan Derek Cornelius di jantung pertahanan. Dalam tiga laga grup, ia menunjukkan ketenangan, distribusi bola yang baik, dan kemampuan organisasi yang matang. Kini dengan Bombito pulih, persaingan memperebutkan tempat inti semakin ketat.
Penampilan impresif De Fougerolles tidak lepas dari dukungan rekan setim yang lebih berpengalaman. Banyak pemain Kanada yang sudah merasakan atmosfer Piala Dunia di Qatar 2022. Menurut De Fougerolles, mereka menjadi mentor yang membantunya beradaptasi. “Saya banyak bertanya kepada mereka tentang pengalaman di Qatar. Itu membuat saya punya gambaran dan tidak merasa asing,” ujarnya.
Keharmonisan tim menjadi salah satu kunci keberhasilan Kanada. De Fougerolles menekankan bahwa meski jarang bertemu—hanya lima atau enam kali setahun—ikatan yang terjalin sangat kuat. “Saat berkumpul di musim panas selama enam pekan, kami benar-benar bisa merekatkan hubungan. Itu terlihat di lapangan,” tambahnya. Momen paling berkesan baginya adalah saat tim menandatangani bola kemenangan pertama Kanada di Piala Dunia, setelah mengalahkan Qatar.
Bagi Indonesia, kisah De Fougerolles menjadi inspirasi tentang bagaimana pemain diaspora dapat memperkuat tim nasional. Kanada, seperti Indonesia, memiliki banyak pemain keturunan yang bermain di liga Eropa. Keberhasilan mereka memanfaatkan potensi tersebut patut menjadi contoh. Jika Indonesia mampu mengelola pemain diaspora dengan baik, bukan tidak mungkin prestasi serupa bisa diraih di masa depan.
Langkah Kanada selanjutnya adalah menghadapi Maroko. De Fougerolles optimistis timnya bisa menciptakan lebih banyak sejarah. “Kami sudah membuat kenangan pertama. Saya yakin masih ada kenangan lain yang akan tercipta,” pungkasnya. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa dan membawa Kanada melangkah lebih jauh?



