Diet Hijau Mediterania Terbukti Perbaiki Metabolisme Folat pada Pembawa Varian Genetik MTHFR
Baca dalam 60 detik
- Studi DIRECT-PLUS menunjukkan diet Green Mediterranean kaya polifenol meningkatkan kadar folat darah secara signifikan dibanding diet Mediterania biasa.
- Individu dengan varian gen MTHFR tipe TT—yang umum pada 10-15% populasi—mendapat manfaat perlindungan kardiometabolik dari pola makan ini.
- Temuan ini memperkuat pendekatan nutrisi presisi: pola makan dapat memodifikasi risiko genetik tanpa perlu suplemen tunggal.

Pola makan yang dikenal sebagai Green Mediterranean (Green-MED) terbukti tidak hanya meningkatkan kadar folat dalam darah, tetapi juga membantu mengompensasi kelainan genetik bawaan pada metabolisme vitamin B tersebut, demikian hasil uji klinis acak terkontrol yang dipublikasikan di jurnal Clinical Nutrition. Temuan ini membuka jalan bagi pendekatan nutrisi yang lebih personal, terutama bagi individu yang membawa varian gen MTHFR yang mengurangi efisiensi pemrosesan folat.
Penelitian yang merupakan bagian dari proyek DIRECT-PLUS ini membandingkan tiga kelompok intervensi: kelompok yang mengikuti diet Green-MED—yang diperkaya dengan teh hijau, kenari, dan shake harian dari tanaman air Wolffia globosa (dikenal sebagai mankai atau duckweed)—kelompok yang menjalani diet Mediterania tradisional, dan kelompok yang hanya mendapat rekomendasi diet sehat standar. Hasilnya, peserta yang menjalani diet Green-MED menunjukkan kadar folat darah yang jauh lebih tinggi, dan peningkatan ini berkorelasi dengan perbaikan sejumlah penanda kesehatan kardiometabolik, termasuk tekanan darah, profil lipid, dan kadar homosistein.
Folat memainkan peran sentral dalam metabolisme satu-karbon, serangkaian reaksi biokimia yang esensial untuk sintesis dan perbaikan DNA serta regulasi ekspresi gen melalui metilasi. Ketika jalur ini terganggu—misalnya pada individu dengan varian gen MTHFR rs1801133 (genotipe TT)—aktivitas enzim MTHFR hanya sekitar 30% dari kapasitas normal, menyebabkan akumulasi homosistein dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, hipertensi, serta penyakit hati berlemak metabolik. Dalam studi ini, peserta dengan genotipe TT yang mengikuti diet Green-MED justru menunjukkan penurunan skor risiko kardiovaskular yang substansial, sementara mereka yang jarang mengonsumsi mankai mengalami peningkatan risiko.
Yang menarik, analisis ekspresi gen dari sampel darah mengungkapkan bahwa peserta dengan genotipe TT yang mengonsumsi lebih banyak nutrisi nabati menunjukkan peningkatan aktivitas gen MTHFD2 dan DHFR—dua gen yang terlibat dalam jalur metabolisme folat alternatif. Para peneliti menduga mekanisme ini membantu mengompensasi berkurangnya fungsi enzim MTHFR. “Folat bertindak seperti pensil epigenetik,” tulis tim peneliti, merujuk pada kemampuannya memengaruhi aktivitas gen melalui metilasi tanpa mengubah urutan DNA.
Ahli gizi kardiologi preventif Michelle Routhenstein, yang tidak terlibat dalam studi, menekankan bahwa pola makan keseluruhan lebih penting daripada satu bahan makanan. “Jika mankai tidak tersedia, jangan khawatir—fokuslah pada makanan kaya folat seperti bayam, kangkung, lentil, buncis, dan edamame. Konsistensi, variasi, dan keberlanjutan adalah kuncinya,” ujarnya. Sementara itu, Şebnem Ünlüişler, ahli genetika dari London Regenerative Institute, menambahkan bahwa temuan ini memperkuat prinsip nutrisi presisi: gen memengaruhi kebutuhan nutrisi, tetapi tidak sepenuhnya menentukan hasil kesehatan. “Pola diet yang ditargetkan dapat memberikan manfaat bermakna bahkan bagi individu dengan fungsi MTHFR yang rendah,” katanya.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi varian MTHFR yang cukup tinggi di populasi Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Meskipun data epidemiologi lokal masih terbatas, pola makan tradisional Indonesia yang kaya akan sayuran hijau, kacang-kacangan, dan rempah sebenarnya sudah selaras dengan prinsip diet Green-MED. Namun, urbanisasi dan pergeseran ke pola makan tinggi gula dan lemak trans dapat mengikis manfaat tersebut. Studi ini mengingatkan bahwa intervensi diet berbasis pangan utuh, bukan suplemen tunggal, mungkin menjadi strategi yang lebih efektif untuk mendukung kesehatan metabolik masyarakat.
Kendati hasilnya menjanjikan, para peneliti mengakui bahwa studi ini tidak dapat memisahkan efek spesifik folat atau mankai dari perubahan diet secara keseluruhan. Selain itu, perubahan ekspresi gen diukur dalam darah dan belum tentu mencerminkan jaringan lain. Penelitian lebih lanjut dengan populasi yang lebih beragam diperlukan untuk memvalidasi temuan ini. Namun, satu hal menjadi jelas: masa depan nutrisi mungkin tidak lagi sekadar menghitung kalori, melainkan merancang pola makan yang selaras dengan cetak biru genetik setiap individu.



