PM Lawrence Wong Kunjungi Timor Leste, Terima Penghargaan Tertinggi Negeri Loro Sae
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong melakukan kunjungan resmi perdana ke Timor Leste, menandai era baru hubungan bilateral.
- Presiden Jose Ramos-Horta akan menganugerahkan Order of Timor Leste (Grand Collar) sebagai bentuk apresiasi atas dukungan Singapura dalam pembangunan dan aksesi ASEAN.
- Kunjungan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran strategisnya di kawasan, mengingat posisi sebagai tetangga dan sesama anggota ASEAN.

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong memulai kunjungan resmi perdananya ke Timor Leste pada Kamis (2/7), sebuah langkah yang mempertegas komitmen Negeri Singa terhadap negara termuda di Asia Tenggara itu. Dalam kunjungan dua hari ini, Wong dijadwalkan bertemu dengan Presiden Jose Ramos-Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmao, serta menerima penghargaan tertinggi Timor Leste, Order of Timor Leste (Grand Collar).
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Wong, yang juga menjabat Menteri Keuangan Singapura, akan menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara. Menurut Kementerian Luar Negeri Singapura, kunjungan ini merupakan balasan atas kunjungan Gusmao ke Singapura pada Juli tahun lalu. Ini adalah kali pertama seorang PM Singapura menginjakkan kaki di Timor Leste sejak negara itu resmi menjadi anggota ASEAN pada Oktober 2025.
Penghargaan Grand Collar yang akan diberikan Ramos-Horta kepada Wong merupakan simbol pengakuan atas kontribusi Singapura dalam pembangunan Timor Leste, termasuk dukungannya dalam proses aksesi ASEAN. Timor Leste secara resmi mengajukan diri menjadi anggota ASEAN pada 2011 dan akhirnya diterima sebagai anggota ke-11 pada 2025. Dukungan Singapura dinilai krusial, terutama dalam aspek pengembangan kapasitas dan diplomasi regional.
Hubungan kedua negara telah terjalin jauh sebelum Timor Leste merdeka pada 2002. Singapura termasuk salah satu negara pertama yang mengirim personel ke pasukan perdamaian internasional pimpinan Australia pada Agustus 1999. Antara 1999 dan 2012, Singapura mengerahkan lebih dari 1.000 personel militer, termasuk tim medis dan pasukan penjaga perdamaian, serta aset seperti kapal pendarat dan helikopter. Polisi Singapura juga berperan dalam pembentukan kepolisian sipil Timor Leste di bawah naungan PBB.
Bagi Indonesia, kunjungan ini memiliki arti strategis. Sebagai tetangga terdekat Timor Leste dan sesama anggota ASEAN, Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kerja sama trilateral atau memperdalam integrasi ekonomi di kawasan Timor Leste-Indonesia-Singapura. Apalagi, hubungan dagang Singapura-Timor Leste yang terus meningkatโSingapura menjadi mitra dagang kelima terbesar Timor Leste pada 2024โmenunjukkan potensi pasar yang belum tergarap maksimal. Indonesia, dengan skala ekonomi yang jauh lebih besar, bisa menjadi jembatan atau pesaing dalam investasi di Timor Leste.
Selama kunjungan, Wong juga akan bertemu dengan komunitas warga Singapura yang tinggal di Timor Leste. Sementara itu, di Singapura, Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong akan menjabat sebagai pelaksana tugas perdana menteri. Kunjungan ini terjadi hanya sepekan setelah Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya mantan Presiden Timor Leste Francisco Guterres pada 24 Juni lalu.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah kunjungan ini akan membuka babak baru kerja sama konkret, misalnya di bidang infrastruktur, energi, atau pendidikan. Atau akankah hubungan bilateral ini tetap bertumpu pada simbolisme sejarah? Yang jelas, dengan posisi Timor Leste sebagai anggota penuh ASEAN, dinamika regional akan semakin menarik untuk diamati.



