Deportasi AS ke Palau Gagal Total: Penerima Pertama Kabur dalam Dua Minggu
Baca dalam 60 detik
- Amerika Serikat mendeportasi migran ke Palau sebagai bagian dari kebijakan imigrasi keras Trump, dengan imbalan dana 7,5 juta dolar AS.
- Penerima pertama hanya bertahan dua minggu sebelum memutuskan pergi, memicu keraguan atas efektivitas program pemukiman kembali.
- Kritikus menilai Palau dijadikan tempat pembuangan masalah imigrasi AS, sementara Indonesia perlu mencermati preseden ini di kawasan Pasifik.

Upaya Amerika Serikat mendeportasi migran ke negara kecil di Pasifik, Palau, langsung menuai kegagalan. Penerima pertama yang tiba pada akhir Mei lalu hanya bertahan dua minggu sebelum memutuskan meninggalkan tempat yang sama sekali asing baginya.
Kantor Presiden Palau Surangel Whipps mengonfirmasi bahwa pria tersebut telah tiba di bandara internasional dekat pemukiman utama Koror, lalu diberikan tempat tinggal sementara dan bantuan adaptasi. Namun, setelah sekitar 14 hari, ia memilih tidak bertahan. Hingga kini, identitas, alasan deportasi, serta tujuan kepergiannya masih menjadi misteri.
Kesepakatan antara Washington dan Koror ditandatangani pada Desember lalu. Palau setuju menerima hingga 75 orang yang dideportasi dari AS dengan imbalan dana 7,5 juta dolar AS untuk kebutuhan pelayanan publik dan infrastruktur. Presiden Whipps sebelumnya menyebut skema ini sebagai "kemenangan bersama"โAS terbantu mengurangi jumlah migran, sementara para deportee mendapat tempat yang aman dan kesempatan kerja baru.
Namun realitas di lapangan jauh berbeda. Penerima pertama tidak memiliki ikatan keluarga, teman, atau budaya di Palau, sebuah negara kepulauan tropis dengan populasi hanya sekitar 20.000 jiwa. Ia diharapkan mencari pekerjaan dan memulai hidup baru, tetapi kenyataan isolasi sosial dan keterbatasan peluang tampaknya menjadi batu sandungan.
Kritik keras datang dari dalam negeri Palau sendiri. Senator Hokkons Baules menyesalkan kebijakan ini, menyebutnya sebagai bentuk pelecehan terhadap kedaulatan Palau. "Kami merasa mereka membuang masalah mereka di Palau," ujarnya kepada ABC Australia awal tahun ini. Upaya hukum terakhir dari senat Palau untuk menghentikan kebijakan itu pun kandas.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Palau adalah salah satu negara Pasifik yang memiliki hubungan dekat dengan AS melalui Compact of Free Association (COFA), yang memberikan akses militer AS dan bantuan finansial besar. Namun, praktik mendeportasi migran ke negara kecil dengan kapasitas terbatas berpotensi menciptakan preseden berbahaya di kawasan. Jika AS memperluas skema serupa ke negara-negara Pasifik lainnya, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di kawasan harus waspada terhadap potensi dampak regional, termasuk arus migrasi dan stabilitas keamanan.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menegaskan komitmen pemerintahan Trump untuk mengakhiri imigrasi ilegal dan memperkuat keamanan perbatasan, namun enggan mengomentari detail komunikasi diplomatik dengan Palau. Sementara itu, kegagalan penerima pertama menyisakan pertanyaan besar: apakah skema ini benar-benar solusi atau sekadar pemindahan masalah?
Ke depan, Palau harus memutuskan apakah akan melanjutkan program ini dengan evaluasi ketat atau justru membatalkannya. Bagi AS, insiden ini bisa menjadi pukulan bagi kebijakan deportasi yang agresif. Pertanyaan yang mengemuka: akankah negara-negara Pasifik lain bersedia mengikuti jejak Palau, atau justru menjauh?



