Dari Pengungsi ke Panggung Dunia: Diaspora Bosnia Bersatu Dukung Timnas di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Restoran Euro Grill di Santa Clara, California, menjadi pusat berkumpulnya diaspora Bosnia yang merayakan lolosnya timnas ke babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.
- Sebagian besar penggemar adalah mantan pengungsi perang Balkan 1990-an yang kini tinggal di AS, dengan komunitas sekitar 10.000 jiwa di kawasan Teluk San Francisco.
- Dukungan terhadap Bosnia melampaui batas negara, dengan penggemar terbang dari Eropa dan seluruh AS, menunjukkan kekuatan diaspora yang solid.

Di sebuah sudut Santa Clara yang tenang, restoran Euro Grill berubah menjadi pusat perayaan dan solidaritas. Lagu-lagu rakyat Bosnia menggema, sementara cevapi dan burek—hidangan khas Balkan—disajikan panas-panas. Bukan sekadar tempat makan, restoran ini menjadi "rumah kedua" bagi diaspora Bosnia yang bersiap menyaksikan timnas mereka berlaga di babak 32 besar Piala Dunia melawan tuan rumah Amerika Serikat.
Euro Grill, satu-satunya restoran milik etnis Bosnia di kawasan South Bay Area, menikmati lonjakan pengunjung sejak Piala Dunia bergulir. Antrean mengular di depan pintu, dan meja-meja penuh sesak dengan penggemar yang datang dari berbagai penjuru. Bagi mereka, momen ini lebih dari sekadar pertandingan sepak bola—ini adalah simbol kebangkitan setelah masa kelam.
Komunitas Bosnia di California Utara diperkirakan mencapai 10.000 jiwa, sebagian besar adalah mantan pengungsi perang Balkan pada 1990-an. Aida Sibic, warga Gilroy yang datang ke restoran, mengaku tak pernah membayangkan timnas Bosnia bisa bermain di depan matanya. "Bahkan dalam mimpi terliar sekalipun, saya tidak menyangka. Ini sangat surreal," ujarnya. Sibic tiba di AS pada 1995 sebagai anak pengungsi, meninggalkan segalanya demi keselamatan.
Pemilik Euro Grill, Ramiz Avdic, juga memiliki latar belakang yang berat. Ia tiba di California pada awal 2000-an setelah melewati pengepungan Sarajevo selama hampir empat tahun. Avdic sempat menjadi tentara dan nyaris kehilangan kaki akibat granat, namun selamat berkat operasi ahli. "Itu masa-masa gelap, tapi sekarang berbeda. Kami semua mendukung tim Bosnia. Semua orang dipersilakan datang ke 'ruang tamu' saya," katanya merujuk pada restorannya.
Ketangguhan yang ditempa oleh perang menjadi ciri khas komunitas ini. Menurut para penggemar, semangat yang sama juga terlihat pada timnas Bosnia yang untuk pertama kalinya menembus fase gugur Piala Dunia. "Orang-orang kami telah melewati banyak hal untuk bisa berada di sini. Ada pemain yang lahir di luar Bosnia tetapi memilih membela negara ini. Itulah kebanggaan Bosnia," tambah Sibic.
Tak ada keraguan di antara diaspora untuk mendukung Bosnia melawan AS. "Ini tanah air versus ibu pertiwi," ujar Sibic. "Amerika Serikat telah menerima kami. Kami membangun rumah di sini." Rasa terima kasih kepada negara tuan rumah tetap ada, namun dukungan terhadap timnas Bosnia tidak tergoyahkan.
Armin Basic, penggemar asal Bosnia yang kini tinggal di Jerman, telah mengumpulkan banyak mil penerbangan untuk mengikuti tim kesayangannya. Ia akan membawa pamannya dari New Jersey ke pertandingan. "Kami memiliki basis penggemar yang besar di seluruh dunia. Saya rasa apa yang saya lakukan tidaklah aneh. Ini adalah hal khas Bosnia: kami selalu mendukung orang-orang kami, ke mana pun mereka pergi," katanya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sepak bola mampu menyatukan diaspora yang tersebar di berbagai belahan dunia. Bagi Bosnia, negara kecil dengan populasi sekitar tiga juta jiwa, kehadiran penggemar yang ribut dan setia menjadi bukti bahwa semangat kebangsaan tidak mengenal batas geografis. Pertandingan melawan AS bukan sekadar laga olahraga, melainkan perayaan identitas dan ketahanan sebuah bangsa.
Ke depan, apakah gelombang dukungan ini akan terus membesar jika Bosnia melaju lebih jauh? Satu hal yang pasti: bagi diaspora Bosnia di California, Piala Dunia ini telah mengubah restoran kecil di Santa Clara menjadi panggung dunia—tempat di mana masa lalu yang kelam berubah menjadi kebanggaan yang tak terbendung.



