BOI dan Kuramo Capital Teken Kontrak Kelola Dana Rp2,7 Triliun untuk Ekosistem Digital dan Kreatif Nigeria
Baca dalam 60 detik
- Bank of Industry (BOI) Nigeria menunjuk Kuramo Capital sebagai manajer dana senilai 170 juta dolar AS dalam program iDICE, yang merupakan komitmen terbesar pemerintah untuk sektor teknologi dan kreatif.
- Program ini menjembatani kesenjangan pendanaan tahap awal yang selama ini menghambat pertumbuhan startup Nigeria, dengan target mobilisasi total 617 juta dolar AS dari berbagai mitra pembangunan.
- Keberhasilan iDICE dapat menjadi model bagi negara berkembang lain, termasuk Indonesia, dalam mendorong investasi publik yang kredibel di ekosistem inovasi.

Bank of Industry (BOI) Nigeria resmi menunjuk Kuramo Capital Management sebagai pengelola dana senilai 170,06 juta dolar AS—setara sekitar Rp2,7 triliun—dalam kerangka Program Investasi Pemerintah Federal untuk Digital dan Kreatif (iDICE). Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah Nigeria serius menjadikan sektor teknologi dan ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan baru, sekaligus menjawab kritik selama ini tentang minimnya pendanaan formal pada tahap awal (pre-seed dan seed).
Managing Director BOI, Olasupo Olusi, dalam pernyataan di Abuja, Rabu lalu, menegaskan bahwa dana yang dikelola Kuramo merupakan komponen terbesar dari total program iDICE yang bernilai 617 juta dolar AS. “Nigeria sedang menetapkan tolok ukur di tingkat benua untuk komitmen negara terhadap inovasi dan ekonomi kreatif melalui dana ini,” ujarnya. Olusi menambahkan, investasi sebelumnya sebesar 64 juta dolar AS ke Ventures Platform Fund II pada 2025 menjadi bukti awal keseriusan pemerintah, dan kini dengan dana kelolaan bersama Kuramo, ekosistem startup Nigeria diharapkan mendapatkan akselerasi yang signifikan.
Program iDICE sendiri merupakan skema pembiayaan bersama yang melibatkan African Development Bank, French Development Agency, Islamic Development Bank, dan BOI sebagai pelaksana. Olusi menyebut program ini sebagai salah satu intervensi paling ambisius dan terstruktur di Afrika untuk sektor teknologi dan kreatif. “Sektor teknologi dan kreatif Nigeria termasuk yang paling dinamis di benua ini, namun masih kekurangan modal ventura formal, terutama pada tahap awal,” katanya. Dengan adanya Fund of Funds, kesenjangan struktural itu diharapkan bisa diatasi secara langsung melalui investasi di berbagai dana yang pada akhirnya mendukung startup dengan modal.
Pemilihan Kuramo Capital sebagai manajer dana tidak terjadi secara instan. Olusi mengungkapkan bahwa proses seleksi berlangsung ketat dan sesuai praktik terbaik global. Namun, ia mengingatkan bahwa penunjukan ini hanyalah awal. “Setiap keterlambatan penutupan dan target yang terlewat memiliki biaya, tidak hanya secara finansial tetapi juga bagi para wirausaha yang menunggu modal,” tegasnya. Ia menekankan bahwa integritas dana ini terkait langsung dengan kredibilitas Nigeria di mata komunitas investor global, dan mendesak Kuramo untuk segera mengerahkan jaringan serta kemampuan penggalangan dana.
Pendiri dan CEO Kuramo Capital, Wale Adeosun, menyambut mandat ini dengan antusias. Ia menyebut DICE Fund of Funds sebagai momen bersejarah bagi ekosistem modal ventura Afrika. “Nigeria menunjukkan bahwa pemerintah bisa menjadi investor jangkar yang serius sekaligus pembangun pasar yang kredibel,” ujarnya. Adeosun mengungkapkan bahwa Kuramo telah menginvestasikan dana di 21 dana hingga saat ini, dan baru saja mengidentifikasi 45 manajer dana perempuan pertama melalui model ABCD (Accelerating, Bridging, Catalysing, Developing). Model ini akan diterapkan dalam program iDICE untuk menjangkau wirausaha perempuan dan muda di enam zona geopolitik Nigeria.
Bagi Indonesia, langkah Nigeria ini menawarkan pelajaran berharga. Meskipun Indonesia memiliki berbagai skema pendanaan startup seperti LPDB dan Dana Inovasi, belum ada program terpadu sebesar iDICE yang menggabungkan komitmen pemerintah, lembaga multilateral, dan manajer dana profesional dalam satu wadah. Keberhasilan Nigeria dalam membangun kredibilitas fiskal di mata investor global—dengan BOI sebagai jangkar—bisa menjadi referensi bagi Kementerian BUMN atau Lembaga Pengelola Dana Bergulir untuk merancang skema serupa. Apalagi, sektor teknologi dan kreatif Indonesia juga menghadapi kesenjangan pendanaan tahap awal yang akut, meskipun potensinya sangat besar.
Ke depan, tantangan terbesar Kuramo Capital adalah memenuhi target penggalangan dana dan memastikan investasi tepat sasaran. Dengan pengalaman mengelola lebih dari 3,5 miliar dolar AS, Kuramo diyakini memiliki kapasitas, namun tekanan waktu dan ekspektasi tinggi dari pemerintah serta mitra internasional membuat pekerjaan ini tidak mudah. Pertanyaan yang menggantung: akankah model Fund of Funds ini benar-benar menjembatani kesenjangan pendanaan, atau justru menjadi bukti lain bahwa modal ventura masih sulit diakses oleh startup tahap awal di Afrika? Jawabannya akan menentukan apakah Nigeria—dan negara lain yang mengikuti jejaknya—bisa benar-benar mentransformasi ekonomi digital mereka.



