Petkovic Hadapi Swiss: Reuni Emosional di Panggung Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Vladimir Petkovic, yang kini menukangi Aljazair, akan berhadapan dengan timnas Swiss yang pernah ia besut selama tujuh tahun.
- Laga ini mempertemukan dua tim yang sama-sama menerapkan filosofi 'organized chaos' ala Petkovic, menciptakan duel taktik yang unik.
- Pertandingan di Vancouver ini tidak hanya menentukan tiket ke babak 16 besar, tetapi juga menjadi ujian warisan kepelatihan Petkovic.

Vladimir Petkovic akan menghadapi tim yang pernah membesarkan namanya ketika Aljazair bertemu Swiss di babak 32 besar Piala Dunia di Vancouver, Kamis (30/6). Pelatih asal Bosnia yang kini menukangi Aljazair itu harus berhadapan dengan skuad yang sebagian besar pemainnya pernah ia latih selama tujuh tahun.
Petkovic meninggalkan jejak mendalam di sepak bola Swiss. Selama menjabat dari 2014 hingga 2021, ia menangani 78 pertandingan—rekor terbanyak bagi pelatih Swiss. Prestasi puncaknya adalah membawa Swiss ke perempat final Piala Eropa 2020, sesuatu yang tak terjadi sejak 1954. Ia juga mengubah identitas permainan Swiss dari sekadar tim fisik menjadi penguasa bola yang atraktif.
Kini, Petkovic harus membendung tim yang ia bentuk sendiri. Swiss di bawah Murat Yakin masih menerapkan banyak prinsip yang ditanamkan Petkovic. Mantan asistennya, Vincent Cavin, yang kini menjadi direktur teknis Chicago Fire, mengatakan bahwa filosofi Petkovic masih terlihat jelas. "Ia ingin timnya dikenal karena cara bermain, bukan hanya hasil. Ini tentang sepak bola yang dinikmati orang," ujar Cavin.
Pertandingan ini juga menjadi ajang reuni emosional bagi kapten Swiss Granit Xhaka. Cavin mengingat momen setelah kemenangan dramatis Swiss atas Prancis di Piala Eropa 2020. "Semua pemain merayakan, tapi Xhaka berhenti, berbalik, dan berlari ke arah pelatih. Itu menggambarkan ikatan mereka," kata Cavin. Xhaka dan sebagian besar pemain Swiss lainnya sangat menghormati Petkovic karena ia tak pernah mencuri perhatian, melainkan membiarkan pemain menjadi pusat sorotan.
Di sisi lain, Petkovic membawa filosofi serupa ke Aljazair. Cavin mengamati bahwa Aljazair menunjukkan determinasi yang sama untuk menguasai bola dan mendominasi pertandingan. "Ini seperti kelanjutan dari apa yang ia bangun di Swiss," imbuhnya. Namun, Cavin mengakui belum cukup banyak menonton Aljazair untuk analisis mendalam.
Bagi Indonesia, duel ini menarik karena memperlihatkan bagaimana seorang pelatih dapat membangun dua tim dengan identitas serupa. Ini juga menjadi pelajaran tentang pentingnya kesinambungan filosofi, sesuatu yang kerap menjadi tantangan di sepak bola Indonesia yang sering berganti pelatih dan strategi.
Petkovic dikenal dengan istilah "organized chaos" dalam serangan—struktur kolektif yang memberi kebebasan pemain untuk mencari solusi. Frasa itu, menurut Cavin, selalu ia sukai. Kini, dua tim yang sama-sama menerapkan prinsip itu akan saling berhadapan. Swiss dan Aljazair seperti dua sisi mata uang yang sama, dilempar oleh Petkovic sendiri. Siapa yang akan mendarat di sisi atas?
Laga ini tidak hanya menentukan langkah selanjutnya di turnamen, tetapi juga menjadi cermin bagi warisan Petkovic. Akankah Swiss yang ia bentuk mampu mengalahkan versi terbaru dari filosofinya? Atau justru Aljazair yang akan membuktikan bahwa sentuhan Petkovic lebih kuat? Jawabannya akan terungkap di Vancouver.



