Bintang WNBA Alyssa Thomas Terima Ancaman Pembunuhan Usai Insiden dengan Caitlin Clark
Baca dalam 60 detik
- Pemain Phoenix Mercury, Alyssa Thomas, mengaku menerima ancaman pembunuhan dan hinaan rasis setelah dihukum satu pertandingan akibat kontak fisik dengan bintang Indiana Fever, Caitlin Clark.
- Thomas menyebut insiden itu kecelakaan belaka dan mengkritik komisaris WNBA Cathy Engelbert yang dinilai diam saja saat pemain menghadapi ujaran kebencian di media sosial.
- Kasus ini memicu perdebatan tentang perlindungan pemain di liga profesional dan bagaimana respons otoritas terhadap pelecehan berbasis ras dan gender.

Pemain depan Phoenix Mercury, Alyssa Thomas, mengaku menerima ancaman pembunuhan dan pelecehan bernuansa rasis setelah dirinya dijatuhi sanksi larangan bertanding satu laga oleh WNBA. Hukuman itu buntut dari insiden kontak fisik dengan guard Indiana Fever, Caitlin Clark, dalam pertandingan Kamis lalu yang berakhir dengan kemenangan Mercury 111-109.
Dalam tayangan ulang, Thomas tampak mengenai area selangkangan Clark dengan lutut dan menekan leher lawannya dengan kepalan tangan saat berebut bola. Wasit tidak meniup peluit saat kejadian, tetapi liga kemudian menilai tindakan Thomas sebagai "kontak ceroboh dengan kepalan tangan ke area tenggorokan". Thomas membantah kesengajaan dan menyebut insiden itu sebagai "kecelakaan murni".
“Sangat disayangkan hal ini terjadi hanya karena basket,” ujar Thomas dalam pernyataan pers, Selasa (24/6). “Banyak dari kami—termasuk saya sendiri—bahkan tidak tahu insiden itu terjadi sampai setelah pertandingan. Ada ancaman pembunuhan terhadap kami. Ini benar-benar tidak bisa diterima.”
Thomas juga menyoroti minimnya respons dari Komisaris WNBA Cathy Engelbert. “Kami belum mendengar apa pun dari Cathy. Tidak mengejutkan. Seperti biasa, dia diam. Sangat disayangkan ketika nyawa kami terancam,” katanya. Engelbert kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengutuk segala bentuk kebencian dan menegaskan keselamatan pemain adalah prioritas utama liga.
Insiden ini memicu diskusi lebih luas tentang perlindungan pemain di liga profesional, terutama terhadap pelecehan rasial dan gender. Di Indonesia, kasus serupa pernah terjadi di Liga 1 ketika pemain menerima ancaman daring setelah insiden di lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah keamanan psikologis atlet masih menjadi tantangan global yang membutuhkan respons tegas dari otoritas olahraga.
Pertandingan antara Mercury dan Fever selanjutnya dijadwalkan pada 9 Juli di Phoenix. Pertanyaan yang mengemuka: akankah WNBA mengambil langkah lebih konkret untuk melindungi pemainnya dari ujaran kebencian, atau insiden ini hanya akan menjadi catatan kaki lain dalam musim yang penuh kontroversi?



