INACO JELI IPO di Harga Terendah: Strategi Agresif atau Sinyal Hati-hati?
Baca dalam 60 detik
- PT Niramas Utama, produsen INACO, memulai IPO dengan harga Rp900 per saham, batas bawah kisaran prospektus, menargetkan dana Rp315 miliar.
- Meski pendapatan bersih menurun dua tahun berturut-turut, laba bersih melonjak drastis berkat efisiensi, menarik perhatian investor ritel.
- Dana IPO mayoritas akan disuntikkan ke anak usaha dan belanja modal, dengan jadwal pencatatan saham pada 7 Juli 2026.

PT Niramas Utama, perusahaan di balik merek makanan penutup INACO, resmi memulai penawaran umum perdana saham (IPO) pada Rabu (1/7/2026) dengan harga yang menjadi sorotan: Rp900 per saham, tepat di batas bawah rentang harga prospektus yang mencapai Rp1.120. Langkah ini mengundang tanya: apakah ini strategi untuk menarik minat investor di tengah ketidakpastian pasar, atau justru sinyal konservatisme dari emiten?
Dalam aksi korporasi ini, perseroan yang akan tercatat dengan kode saham JELI melepas 350 juta lembar saham, setara 25,93% dari modal ditempatkan dan disetor. Dengan demikian, dana maksimal yang dapat dihimpun mencapai Rp315 miliar. Jadwal penawaran berlangsung hingga 3 Juli 2026, dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan pada 7 Juli 2026.
Yang menarik, alokasi dana hasil IPO menunjukkan prioritas yang jelas. Lebih dari separuh dana, tepatnya 51,04%, akan digunakan untuk penyertaan modal kepada anak perusahaan, PT NPS, dalam bentuk ekuitas. Sementara itu, 18,36% dialokasikan untuk belanja modalโterutama pembelian mesin produksi, peralatan, dan perlengkapan guna meningkatkan kapasitas penyimpanan gudang serta mempercepat logistik. Sebesar 10,63% akan dipakai untuk membayar sebagian pokok utang jangka pendek, dan sisanya 19,97% sebagai modal kerja.
Keputusan mematok harga batas bawah ini patut dicermati, terutama jika melihat kinerja keuangan perseroan. Secara top-line, pendapatan bersih JELI mengalami kontraksi beruntun: turun 6,02% pada 2024 dan kembali menyusut 4,49% pada 2025. Namun, laba bersih justru melonjak luar biasaโmelesat 592,51% pada 2024 dan kembali naik 235,50% pada 2025. Fenomena ini menandakan adanya efisiensi operasional yang agresif, meskipun penjualan menurun. Investor perlu mencermati apakah pertumbuhan laba ini berkelanjutan atau hanya bersifat sementara.
Bagi investor Indonesia, IPO JELI menawarkan dilema. Di satu sisi, harga murah dan prospek efisiensi bisa menjadi daya tarik. Di sisi lain, penurunan pendapatan yang konsisten memunculkan risiko. Analis pasar menilai bahwa langkah ini bisa menjadi strategi untuk memastikan penyerapan penuh saham di tengah sentimen pasar yang masih volatil. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa fundamental jangka panjang tetap menjadi kunci.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah INACO mampu membalikkan tren penurunan penjualan dengan belanja modal dan ekspansi anak usaha. Pasar akan menguji kepercayaan investor pada 7 Juli 2026, saat saham JELI resmi diperdagangkan di BEI.



