Tuchel Pertahankan Warisan Southgate: Strategi Adu Penalti Timnas Inggris Tetap Sama
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Thomas Tuchel mengonfirmasi timnas Inggris tetap menggunakan protokol adu penalti warisan Gareth Southgate di Piala Dunia 2026.
- Di bawah Southgate, Inggris memenangi tiga dari empat adu penalti turnamen besar, berbalik dari catatan buruk sebelumnya yang hanya satu kemenangan dari tujuh kesempatan.
- Tuchel mengakui simulasi tekanan adu penalti sulit dilakukan, namun percaya proses yang sudah teruji akan membantu tim menghadapi DR Congo.

Thomas Tuchel memastikan bahwa timnas Inggris tidak akan mengubah pendekatan adu penalti yang diwariskan oleh pendahulunya, Gareth Southgate, saat menghadapi DR Congo pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, Rabu (25/6) waktu setempat. Pelatih asal Jerman itu menegaskan bahwa Federasi Sepak Bola Inggris (FA) telah memiliki program khusus yang diterapkan secara konsisten sejak era Southgate.
"FA memiliki program yang sudah berjalan bertahun-tahun dan kami mengikutinya. Kami siap. Ada proses yang kami jalani, dan para pemain juga memiliki proses masing-masing," ujar Tuchel dalam konferensi pers menjelang laga yang akan digelar di Atlanta tersebut.
Keputusan Tuchel untuk mempertahankan cetak biru adu penalti Southgate bukan tanpa alasan. Sebelum Southgate menangani timnas senior pada 2016, Inggris hanya memenangi satu dari tujuh adu penalti di turnamen besar—sebuah rekor yang memalukan. Namun, di bawah kepemimpinan Southgate, Inggris berhasil memenangi tiga dari empat adu penalti, termasuk kemenangan bersejarah atas Kolombia di Piala Dunia 2018 dan Swiss di Nations League 2019. Satu-satunya kegagalan terjadi di final Euro 2020 melawan Italia.
Apa yang membuat pendekatan Southgate begitu efektif? Mantan pelatih Tottenham itu mengubah paradigma bahwa adu penalti bukanlah lotere. Ia menerapkan latihan rutin dengan simulasi semirip mungkin dengan kondisi pertandingan, termasuk meniru tekanan psikologis. Setiap pemain yang ditunjuk sebagai algojo memiliki "teman" yang akan menyambut mereka di garis tengah setelah melakukan tendangan, guna berbagi beban. Kiper Jordan Pickford bahkan memiliki catatan riset lawan yang ditempel di botol minumnya.
Namun, Tuchel juga memberikan catatan hati-hati. Ia mengakui bahwa simulasi adu penalti tidak akan pernah bisa meniru tekanan sesungguhnya. "Saya mendengar Thierry Henry berkata bahwa ia tidak bisa mengingat perjalanan dari garis tengah ke titik penalti pada adu penalti pertamanya bersama Prancis. Itu tidak bisa dilatih," kata Tuchel.
Dalam laga melawan DR Congo, Tuchel tidak menjanjikan permainan indah. Ia menekankan bahwa tujuan utama adalah lolos, bukan tampil memukau. "Ini bukan saatnya untuk bersinar dan berharap penampilan glamor. Ini saatnya untuk melaju, menyelesaikan pekerjaan, dan menunjukkan kualitas individu," tegasnya. Inggris lolos sebagai juara Grup L dengan kemenangan atas Kroasia dan Panama, serta hasil imbang tanpa gol melawan Ghana.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, strategi adu penalti Inggris ini bisa menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia kerap kesulitan dalam adu penalti di turnamen regional, seperti Piala AFF. Pendekatan sistematis yang diterapkan Inggris—mulai dari pemilihan algojo, simulasi tekanan, hingga dukungan psikologis—bisa menjadi referensi bagi PSSI untuk meningkatkan mentalitas pemain dalam situasi krusial.
Pertanyaan besarnya: akankah Tuchel mampu mempertahankan konsistensi Inggris di babak gugur, atau justru DR Congo yang menjadi batu sandungan pertama? Semua akan terjawab di Atlanta nanti.



