Viral di Piala Dunia, Bintang Dadakan Berburu Cuan Lewat Media Sosial
Baca dalam 60 detik
- Pemain seperti kiper Cape Verde Vozinha dan bek Selandia Baru Tim Payne meroket pengikut Instagram hingga jutaan dalam hitungan hari berkat momen viral di Piala Dunia.
- Para ahli memperingatkan popularitas itu bisa cepat memudar setelah turnamen usai, kecuali atlet mampu mempertahankan engagement audiens.
- Fenomena ini mengubah lanskap pemasaran olahraga: atlet kini tak perlu jadi bintang lapangan untuk meraup pendapatan dari brand, asalkan punya basis penggemar digital yang besar.

Dalam 90 menit, kiper Cape Verde Vozinha berhasil mengubah akun Instagramnya yang hanya 50 ribu pengikut menjadi 17,4 juta—melampaui legenda NFL Tom Brady. Momen heroiknya menahan imbang Spanyol di fase grup Piala Dunia menjadi tiket emas menuju ketenaran instan. Namun, pertanyaan besarnya: bisakah ketenaran itu diubah menjadi pundi-pundi rupiah yang bertahan lama?
Fenomena atlet dadakan yang mendadak viral di media sosial bukan lagi cerita langka. Bek Selandia Baru Tim Payne, yang dijuluki 'pemain paling tidak dikenal' oleh seorang influencer Argentina, mengalami lonjakan pengikut dari 5.000 menjadi hampir 6 juta hanya dalam beberapa hari—tanpa perlu menyentuh bola di lapangan. Ia bahkan bercanda bahwa jumlah pengikutnya kini melebihi populasi negerinya sendiri.
Mike Serazio, profesor Boston College yang meneliti persimpangan media dan olahraga, melihat pergeseran besar dalam dekade terakhir. "Kita menyaksikan lahirnya atlet-stars yang popularitasnya tidak sebanding dengan bakat olahraganya," ujarnya. Dulu, hanya pemain top yang bisa tampil di iklan televisi atau kotak sereal. Kini, dengan modal satu momen viral, seorang pemain bisa menuai kontrak sponsor senilai enam digit angka.
Namun, Serazio mengingatkan bahwa jendela perhatian itu sempit. "Viral naik cepat, turun pun sama cepatnya. Tidak ada yang tahu siapa kiper Cape Verde itu setelah Piala Dunia berakhir," katanya. Berbeda dengan megabintang seperti Messi, Ronaldo, atau Mbappé yang tetap bernilai komersial tinggi meski pensiun, atlet satu momen jarang bisa mempertahankan daya tariknya.
Brooke Duffy, pakar media digital dari Cornell University, menambahkan bahwa pendapatan dari media sosial sangat fluktuatif. "Tidak ada standar harga yang jelas seperti iklan TV. Atlet harus pandai menavigasi ekosistem ekonomi digital yang abu-abu ini," jelasnya. Meski begitu, ia mengakui bahwa pengikut adalah mata uang baru yang bisa menghasilkan pendapatan signifikan jika dikelola dengan baik.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat antusiasme publik terhadap Piala Dunia dan maraknya penggunaan media sosial. Atlet-atlet Tanah Air, terutama di cabang sepak bola, bisa belajar dari kasus Vozinha dan Payne: momen viral bisa menjadi batu loncatan, tetapi tanpa strategi konten dan engagement yang konsisten, popularitas hanya akan menjadi kilas balik. Pertanyaannya, akankah ada pemain Indonesia yang mampu memanfaatkan panggung global seperti Piala Dunia untuk membangun kerajaan digitalnya sendiri?



