Serena Williams Gagal Menang di Wimbledon: Kalah dari Petenis 24 Tahun Lebih Muda
Baca dalam 60 detik
- Serena Williams kalah dalam tiga set dari Maya Joint pada putaran pertama Wimbledon, setelah menyelamatkan satu match point.
- Petenis berusia 44 tahun itu tampil untuk pertama kalinya di tunggal Wimbledon sejak 2021, disambut meriah penonton Centre Court.
- Kekalahan ini menegaskan bahwa era dominasi Williams telah berakhir, meski ia masih akan bermain ganda bersama Venus Williams.

Serena Williams harus mengakui keunggulan petenis Australia Maya Joint dalam pertarungan tiga set yang menegangkan di putaran pertama Wimbledon, Selasa (1/7). Legenda tenis Amerika Serikat berusia 44 tahun itu kalah 6-3, 6-7 (6-8), 6-3 setelah menyelamatkan satu match point di set kedua.
Kembalinya Williams ke lapangan rumput All England Club setelah absen 1.462 hari sejak pertandingan terakhirnya pada 2021 mendapat sambutan luar biasa dari penonton Centre Court. Namun, waktu seolah tak berpihak pada pemilik 23 gelar Grand Slam tunggal putri itu. Ia harus berhadapan dengan Joint yang 24 tahun lebih muda, dan meski sempat menunjukkan kilasan permainan terbaiknya, Williams tak mampu mempertahankan konsistensi di set penentuan.
Pertandingan ini menjadi ujian nyata bagi Williams yang kembali ke tunggal setelah hampir empat tahun vakum. Sejak mengumumkan 'evolusi' dari tenis pada 2022, ia hanya tampil di nomor ganda bersama sejumlah pasangan. Di Queen's dan Berlin, ia menunjukkan tanda-tanda positif, tetapi fisik dan kecepatan menjadi kelemahan utama saat berhadapan dengan Joint yang agresif.
Di set pertama, Williams kesulitan menghadapi pukulan-pukulan tajam Joint dari baseline. Tanpa partner ganda yang bisa diandalkan, ia kerap terlambat menjangkau bola-bola silang. Namun, setelah tertinggal, juara tujuh kali Wimbledon itu bangkit dan memaksa tie-break di set kedua. Saat Joint memiliki match point, Williams merespons dengan forehand winner dan servis 120 mph untuk memaksa set ketiga.
Sayangnya, energi Williams habis di set penentuan. Joint, yang sebelumnya kalah dalam 11 pertandingan WTA Tour berturut-turut, tampil percaya diri dan menutup pertandingan dengan kemenangan perdana di Wimbledon. "Saya tidak tidur nyenyak semalam, hanya memikirkan pertandingan ini. Saya bahkan lupa pemanasan, kaki saya tidak bergerak," ujar Joint dalam wawancara di lapangan.
Bagi Williams, kekalahan ini mungkin menjadi penanda akhir dari era keemasannya di Wimbledon. Namun, ia masih akan bermain ganda bersama kakaknya, Venus Williams, akhir pekan ini. Pasangan yang pernah meraih enam gelar ganda di Wimbledon itu akan menghadapi Camila Osorio dan Solana Sierra. Kehadiran kedua putrinya, Olympia (8) dan Adira (3), di tribun pemain menjadi motivasi utama Williams untuk terus bermain.
Dari sudut pandang Indonesia, pertandingan ini mengingatkan pada perjuangan petenis senior seperti Yayuk Basuki yang pernah berlaga di Wimbledon di usia 30-an. Meski jarang ada petenis Indonesia yang bersaing di level tertinggi, kisah Williams menunjukkan bahwa usia bukanlah halangan untuk kembali ke panggung besar. Namun, persaingan ketat di tenis putri saat ini menuntut kebugaran fisik yang prima, sesuatu yang sulit dipertahankan di atas usia 40 tahun.
Pertanyaan besarnya kini: apakah ini pertandingan tunggal terakhir Serena Williams di Wimbledon? Dengan semangat juang yang masih membara, ia mungkin akan mencoba lagi tahun depan. Namun, waktu terus berjalan, dan lawan-lawannya semakin muda dan tangguh.



