Antonio Conte di Persimpangan: Tawaran Rp350 Miliar dari Al-Ittihad atau Kembali ke Timnas Italia
Baca dalam 60 detik
- Klub Saudi Al-Ittihad siap memberikan gaji €20 juta per musim kepada Antonio Conte untuk mengisi kursi pelatih yang ditinggalkan Sergio Conceicao.
- Conte saat ini menganggur setelah kontraknya di Napoli berakhir, dan ia menjadi kandidat utama bersama Roberto Mancini untuk menangani Timnas Italia.
- Keputusan akhir Conte akan bergantung pada prioritas pribadinya, dengan peluang kembali ke tim nasional disebut sebagai opsi yang lebih diutamakan.

Antonio Conte, pelatih yang baru saja meninggalkan Napoli, kini berada di persimpangan karier. Klub Arab Saudi, Al-Ittihad, dikabarkan siap menggelontorkan gaji fantastis sebesar €20 juta per musim—setara lebih dari Rp350 miliar—untuk meyakinkannya menangani tim. Namun, di sisi lain, peluang untuk kembali memimpin Timnas Italia masih menjadi prioritas utama pelatih berusia 56 tahun tersebut.
Menurut laporan terbaru dari Corriere dello Sport, Al-Ittihad menjadikan Conte sebagai target utama untuk menggantikan Sergio Conceicao, yang hanya bertahan singkat di klub tersebut. Tawaran gaji sebesar itu menjadikan Conte sebagai salah satu pelatih dengan bayaran tertinggi di dunia, sejajar dengan nama-nama besar seperti Carlo Ancelotti atau Pep Guardiola.
Conte saat ini berstatus bebas transfer setelah mengakhiri kontraknya dengan Napoli secara damai pada awal Juni lalu. Selama dua musim di Naples, ia berhasil mempersembahkan gelar Serie A pada musim pertamanya dan Supercoppa Italiana pada musim keduanya. Prestasi tersebut membuatnya tetap menjadi komoditas panas di pasar pelatih Eropa dan Asia.
Namun, kabar dari Italia menyebutkan bahwa Conte masih menjadi kandidat kuat untuk menangani Timnas Italia, menggantikan Gennaro Gattuso yang mundur setelah kegagalan di play-off Piala Dunia. Bersama Roberto Mancini, mantan pelatih timnas tersebut, Conte disebut sebagai dua nama terdepan. Presiden FIGC yang baru terpilih diperkirakan akan menunjuk direktur teknis terlebih dahulu sebelum memutuskan pelatih kepala.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pergerakan Conte menarik untuk diikuti. Jika ia memilih Arab Saudi, maka Liga Pro Saudi akan semakin bergengsi dengan kehadiran pelatih top Eropa. Sebaliknya, jika ia kembali ke timnas Italia, maka skuad Azzurri yang tengah dalam masa transisi akan mendapatkan sentuhan taktik yang disiplin dan agresif—gaya khas Conte yang pernah membawa Italia ke semifinal Euro 2016.
Conte sendiri, menurut Corriere dello Sport, masih menjadikan jabatan pelatih timnas sebagai prioritas. Namun, godaan finansial dari Al-Ittihad bisa menjadi pertimbangan berat. Keputusan akhir diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa pekan ke depan, setelah FIGC menyelesaikan struktur organisasinya.
Pertanyaan besarnya: apakah Conte akan memilih tantangan membangun kembali kejayaan Italia, ataukah ia akan tergoda oleh proyek ambisius di Timur Tengah yang menjanjikan kesejahteraan finansial jangka panjang? Jawabannya akan menentukan arah karier salah satu pelatih paling sukses di sepak bola Italia.



