Madueke Siap Jadi Eksekutor Penalti: Mental 'Delusi Sehat' Kunci Inggris Hadapi DR Congo
Baca dalam 60 detik
- Noni Madueke menyatakan siap menjadi algojo penalti jika laga Inggris vs DR Congo berlanjut ke adu tos.
- Penyerang Arsenal itu mengandalkan 'healthy delusion' atau keyakinan berlebih sebagai fondasi mental menghadapi tekanan.
- Inggris diyakini akan menghadapi pertahanan rapat DR Congo, mengulang pola frustrasi saat ditahan Ghana 0-0.

Babak gugur Piala Dunia 2026 tidak memberi ruang bagi kesalahan sekecil apa pun. Bagi Inggris, satu tendangan penalti bisa menjadi penentu antara melaju atau pulang. Menjelang laga 32 besar melawan Republik Demokratik Kongo di Atlanta, Rabu (30/6) waktu setempat, penyerang Noni Madueke justru menunjukkan kepercayaan diri yang tak tergoyahkan.
Madueke, yang menjadi debutan di turnamen ini saat Inggris mengalahkan Kroasia 4-2 pada laga pembuka, mengaku selalu siap jika ditunjuk sebagai eksekutor penalti. "Saya selalu terbuka untuk mengambil penalti. Itu kembali pada keputusan pelatih dan apa yang terbaik bagi tim. Tapi dari sisi saya, saya selalu siap," ujarnya di base camp Inggris, Senin (28/6).
Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Madueke meyakini bahwa seni mengeksekusi penalti tidak hanya soal teknik, melainkan juga psikologis. "Banyak hal bergantung pada psikologi. Cara Anda menyentuh bola, run-up, apakah Anda ragu-ragu, menunggu kiper, atau langsung memilih sudut dan menendang sebersih mungkin. Semua itu masuk di dalamnya," jelas pemain berusia 24 tahun tersebut.
Yang menarik, Madueke menganut apa yang ia sebut sebagai healthy delusionโkeyakinan berlebih yang tak tergoyahkan pada kemampuan diri, apa pun situasinya. "Anda harus merasa seperti itu. Anda adalah pemain top, Anda di sini karena suatu alasan, Anda bermain untuk negara di panggung terbesar. Anda harus memiliki kepercayaan diri yang berlebihan pada kemampuan Anda, karena Anda yang harus memberikan hasil," tegasnya.
Namun, kepercayaan diri Madueke akan diuji oleh gaya bermain Kongo yang diprediksi akan bertahan rapat. Pelatih Inggris, Gareth Southgate, kemungkinan besar akan menghadapi situasi serupa saat melawan Ghana di fase grup, yang berakhir tanpa gol. "Tidak hanya kami, setiap tim kesulitan menghadapi lawan yang menempatkan 11 pemain di ruang 30 meter. Tidak mudah untuk menembusnya. Kami melihat negara-negara top lain juga kesulitan," kata Madueke.
Ia menambahkan, "Tentu saja, saat Anda melawan Inggris, secara alami Anda akan mengambil pendekatan defensif karena kualitas tim kami. Dari sisi kami, kami memiliki pola yang sama dan berusaha menerapkannya sedikit lebih baik daripada saat melawan Ghana."
Persaingan di sayap kanan Inggris juga menarik. Madueke bersaing dengan rekan setimnya di Arsenal, Bukayo Saka, untuk mendapatkan tempat utama. Meski demikian, keduanya tetap menjaga hubungan baik. "Biasanya ini agak aneh, tapi tidak. Kami menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain saat bermain. Pada akhirnya, jika dia bermain baik dan saya bermain baik, Inggris punya peluang lebih besar untuk menang," ujar Madueke.
Bagi Indonesia, kisah Madueke dan tekanan penalti ini relevan mengingat Timnas Indonesia juga kerap menghadapi situasi serupa di turnamen internasional. Mentalitas healthy delusion ala Madueke bisa menjadi pelajaran berharga bagi pemain muda Indonesia yang kerap gugup di momen krusial. Akankah Inggris mampu menembus pertahanan Kongo dan menghindari drama adu penalti? Atau justru Madueke yang akan menjadi pahlawan melalui titik putih?



