Kontroversi VAR Bikin Jerman Tersingkir: Gol Jonathan Tah Dianulir, Pelatih Julian Nagelsmann Murka
Baca dalam 60 detik
- Gol Jonathan Tah di perpanjangan waktu dianulir VAR karena dianggap menghalangi kiper Paraguay, meskipun banyak pihak menilai keputusan itu terlalu keras.
- Alan Shearer dan Jurgen Klopp mengkritik keputusan wasit, dengan Klopp menyindir bahwa Arsenal bisa kehilangan gelar jika standar serupa diterapkan.
- Kekalahan ini memicu perdebatan tentang konsistensi VAR di turnamen besar, terutama terkait interpretasi pelanggaran terhadap kiper.

Keputusan kontroversial video assistant referee (VAR) kembali mewarnai gelaran Piala Dunia. Jerman harus rela tersingkir setelah gol Jonathan Tah pada menit ke-12 babak perpanjangan waktu dianulir, sehingga skor tetap 1-1 dan Paraguay akhirnya menang lewat adu penalti 4-3. Insiden ini memicu kemarahan pelatih Julian Nagelsmann serta kritik tajam dari sejumlah pengamat sepak bola.
Bermula dari sepak pojok yang diterima Jerman, bek Waldemar Anton dinilai menghalangi kiper Paraguay, Orlando Gill, saat bola melayang ke kotak penalti. Gill jatuh ke tanah, lalu bangkit dan mencoba menyelamatkan sundulan Tah. Wasit Jalal Jayed, setelah melihat tayangan ulang di pinggir lapangan atas rekomendasi VAR, memutuskan untuk menganulir gol tersebut. Keputusan ini langsung menuai protes keras dari kubu Jerman.
Mantan kapten Inggris Alan Shearer, yang menjadi komentator BBC One, menyebut insiden itu "konyol" dan menuduh Gill "menipu wasit". "Wasit seharusnya paham bahwa sepak bola adalah olahraga kontak. Kiper itu jatuh dengan sedikit sentuhan, itu sangat lembut. Keputusan yang buruk," ujar Shearer. Mantan asisten wasit Premier League Darren Cann juga menilai pelanggaran tersebut terlalu kecil untuk menganulir gol. "Ini lunak. Saya tidak yakin itu cukup untuk menganulir gol," katanya.
Pelatih Jerman Julian Nagelsmann tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. "Menurut saya, ini bukan pelanggaran nyata; sungguh lelucon gol itu dianulir," ucapnya. Nagelsmann bahkan mendapat kartu kuning karena protesnya yang berlebihan. Sementara itu, Jurgen Klopp yang bekerja sebagai komentator televisi Jerman melontarkan sindiran pedas. "Jika gol seperti ini ilegal, maka Arsenal tidak akan menjadi juara Premier League. Mereka mencetak 60% gol mereka dengan cara seperti itu," kata Klopp merujuk pada banyak gol Arsenal dari situasi bola mati musim lalu.
Kontroversi ini kembali menyoroti inkonsistensi penggunaan VAR di turnamen akbar. Sebelumnya, beberapa gol juga dianulir karena pelanggaran ringan terhadap kiper. Mantan pemain sayap Skotlandia Pat Nevin menilai keputusan itu subjektif. "Ada blok, apakah itu mempengaruhi kiper? Tampaknya iya. Tapi itu panggilan subjektif, tidak jelas," ujarnya. Bagi Jerman, kekalahan ini menjadi pukulan telak setelah mereka nyaris bangkit dari ketertinggalan. Nasib Nagelsmann pun kini dipertanyakan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, insiden ini mengingatkan pada perdebatan serupa di Liga Indonesia, di mana keputusan VAR kerap menuai kontroversi. Konsistensi wasit dalam menafsirkan pelanggaran di kotak penalti menjadi isu krusial yang mempengaruhi hasil pertandingan. Ke depannya, FIFA mungkin perlu meninjau kembali pedoman VAR untuk menghindari keputusan yang dianggap terlalu keras dan merugikan tim yang sedang menyerang.



