Wall Street Rebound: Tech Bangkit, Dow Cetak Rekor Baru
Baca dalam 60 detik
- Saham teknologi memimpin penguatan Wall Street, mendorong Dow Jones ke rekor tertinggi sepanjang masa.
- Yen Jepang terperosok ke level terlemah dalam 40 tahun terhadap dolar AS, dipicu sikap hawkish Federal Reserve.
- Data tenaga kerja AS pekan ini menjadi kunci arah kebijakan moneter, berpotensi mempengaruhi pasar global termasuk Indonesia.

Saham-saham teknologi kembali menjadi motor penggerak utama di bursa Wall Street, mendorong Indeks Dow Jones menembus rekor penutupan tertinggi pada Senin (29/6). Di saat yang sama, minyak mentah menguat tipis dan yen Jepang merosot ke titik terendah dalam empat dekade terhadap dolar AS.
Indeks Dow Jones naik 0,6 persen ke level rekor baru, sementara Nasdaq yang sarat saham teknologi melonjak lebih dari 2 persen. Pergerakan ini membalikkan tekanan yang dialami sektor semikonduktor pada pekan lalu, ketika kekhawatiran valuasi yang terlalu tinggi sempat membuat investor menarik diri. Kini, aksi beli kembali terjadi, terutama di saham-saham chip dan perangkat lunak.
“Sejauh ini, awal pekan yang pendek ini benar-benar tentang rotasi kembali ke teknologi, yang memimpin kenaikan, baik di ruang perangkat lunak maupun semikonduktor,” ujar Angelo Kourkafas, analis dari Edward Jones. Nvidia, pemimpin kecerdasan buatan, naik 1,3 persen, sementara AMD, Broadcom, dan Intel masing-masing mencatat kenaikan lebih dari 2 persen.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah naik moderat setelah pekan lalu jatuh ke level sebelum perang. Ketegangan baru di Selat Hormuz—yang mengganggu jalur pelayaran—menjadi pemicu, meskipun Amerika Serikat dan Iran dilaporkan sepakat menghentikan serangan dan melanjutkan perundingan. Analis Swissquote, Ipek Ozkardeskaya, menilai dampaknya terhadap harga minyak masih relatif terbatas.
Pasar Asia mencatat kinerja lebih baik dengan indeks Tokyo, Hong Kong, dan Shanghai ditutup hijau. Lonjakan saham teknologi tahun ini telah membawa indeks Seoul, Tokyo, dan tiga indeks utama Wall Street ke rekor baru. Saham SK hynix, misalnya, meroket 300 persen dalam enam bulan pertama.
Bagi Indonesia, pergerakan dolar AS dan suku bunga global menjadi perhatian utama. Penguatan dolar yang didorong sikap hawkish Federal Reserve berpotensi menekan rupiah dan meningkatkan beban utang luar negeri. Selain itu, ketidakpastian harga minyak akibat konflik Iran-AS bisa mempengaruhi anggaran subsidi energi dalam negeri.
Pelaku pasar kini menanti data lapangan kerja Amerika Serikat yang akan dirilis Kamis ini. Laporan tersebut diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan moneter The Fed. “Kecuali Kevin Warsh atau otoritas Jepang memberikan kejutan nyata sebelumnya, laporan pasar tenaga kerja kemungkinan akan menentukan apakah pasar terus membangun repricing hawkish The Fed atau mulai menguranginya,” kata David Scutt, analis pasar di Forex.com.
Forum tahunan Bank Sentral Eropa di Portugal pekan ini juga akan menjadi sorotan, dengan kehadiran Kevin Warsh dari The Fed. Pertemuan itu bisa memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga global. Pertanyaannya, akankah data tenaga kerja AS mengonfirmasi kekuatan ekonomi yang mendorong The Fed tetap agresif, atau justru membuka ruang untuk pelonggaran?



