Rayakan Ulang Tahun ke-6, Panda Yuanbao Dapat Perlakuan Khusus di Tengah Dugaan Kehamilan Palsu
Baca dalam 60 detik
- Yuanbao, anak bungsu dari pasangan panda hadiah China daratan untuk Taiwan, genap berusia enam tahun dan dirayakan dengan siaran langsung dari Taipei Zoo.
- Kurator kebun binatang mengungkapkan bahwa suguhan ulang tahun tahun ini dirancang untuk membantu Yuanbao mengatasi perubahan perilaku akibat pseudopregnancy, kondisi yang juga dialami induk dan kakaknya.
- Peristiwa ini mengingatkan pada diplomasi panda antara China dan Taiwan yang dimulai tahun 2008, serta tantangan konservasi panda raksasa di penangkaran.

Taipei Zoo tetap menggelar perayaan ulang tahun keenam Yuanbao, panda betina termuda dari pasangan panda hadiah China daratan untuk Taiwan, meski kebun binatang tengah ditutup untuk umum karena pemeliharaan. Acara yang berlangsung Minggu pagi itu disiarkan langsung selama sekitar 30 menit, memperlihatkan Yuanbao menikmati kue ulang tahun, buah-buahan, dan mainan yang disiapkan khusus.
Yuanbao lahir pada tahun 2020 dari pasangan Tuantuan dan Yuanyuan, dua panda raksasa yang dikirim China daratan ke Taiwan pada 2008 sebagai simbol hubungan lintas selat. Kelahirannya menyusul kakak perempuannya, Yuanzai, yang lahir pada Juli 2013. Namun, kebahagiaan keluarga panda ini sempat terusik ketika Tuantuan, panda jantan, mati pada 2022 akibat tumor otak, tak lama setelah ulang tahunnya yang ke-18, setelah 14 tahun tinggal di Taipei Zoo.
Yang menarik dari perayaan tahun ini adalah perhatian khusus pada dugaan kehamilan palsu (pseudopregnancy) yang dialami Yuanbao. Wang Chien-po, kurator Rumah Panda Raksasa di Taipei Zoo, menjelaskan bahwa suguhan ulang tahun dirancang untuk membantu Yuanbao mengatasi perubahan perilaku yang diduga disebabkan oleh siklus tersebut. Pseudopregnancy adalah kondisi di mana panda betina menunjukkan gejala seperti hamil—nafsu makan berkurang, gerakan melambat, dan tidur lebih lama—padahal sebenarnya tidak hamil. Kondisi ini sebelumnya juga dialami oleh Yuanzai dan Yuanyuan.
Fenomena pseudopregnancy pada panda raksasa menjadi tantangan tersendiri bagi para penjaga kebun binatang. Selain memengaruhi kesehatan fisik, perubahan perilaku ini juga dapat mempersulit upaya perkawinan alami maupun buatan. Di alam liar, panda raksasa memiliki tingkat reproduksi yang rendah, dan pseudopregnancy kerap membuat petugas kesulitan memastikan apakah seekor betina benar-benar bunting atau tidak. Oleh karena itu, penanganan seperti pemberian makanan khusus dan pengayaan lingkungan menjadi krusial untuk menjaga kesejahteraan hewan.
Bagi Indonesia, kisah Yuanbao dan keluarganya menyoroti pentingnya konservasi satwa langka di kebun binatang. Meski Indonesia tidak memiliki panda raksasa di alam liar, keberadaan panda di kebun binatang dalam negeri—seperti di Taman Safari Indonesia—menjadi daya tarik edukasi dan wisata. Diplomasi panda ala China juga mengingatkan pada pola kerja sama konservasi yang bisa diadopsi Indonesia untuk melindungi satwa endemik seperti komodo atau orangutan. Keberhasilan Taipei Zoo dalam merawat panda raksasa, termasuk menangani pseudopregnancy, bisa menjadi referensi bagi lembaga konservasi di Tanah Air.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Taipei Zoo akan terus mengelola reproduksi panda raksasa di tengah keterbatasan genetik akibat hanya tersisa satu pejantan (Yuanbao dan Yuanzai betina). Apakah akan ada upaya mengimpor panda baru dari China daratan, atau justru fokus pada teknologi reproduksi buatan? Jawabannya mungkin akan menentukan masa depan populasi panda di Taiwan.



