IHSG Terkoreksi 1,28%, Investor Asing Jual Bersih Rp881 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,28% ke 5.820,79 pada Senin (29/6), dengan aksi jual asing mencapai Rp881,58 miliar di seluruh pasar.
- Tekanan likuiditas dari jadwal IPO awal Juli dan pelemahan sektor infrastruktur menjadi pemberat utama, sementara sektor properti justru menguat.
- Sejumlah emiten seperti FUTR, BIPI, dan CTRA mengumumkan aksi korporasi signifikan, mulai dari ekspansi EBT, divestasi tambang, hingga dividen jumbo.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan awal pekan, ditutup merosot 1,28% ke level 5.820,79, seiring derasnya arus modal asing yang keluar dari pasar domestik. Investor asing mencatat aksi jual bersih Rp854,10 miliar di pasar reguler dan total Rp881,58 miliar di seluruh pasar, menandai kekhawatiran terhadap likuiditas jangka pendek.
Dari sebelas indeks sektoral, hanya sektor properti yang mampu bertahan di zona hijau. Adapun sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan. Pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, TLKM, dan BREN turut membebani laju indeks. Di sisi lain, saham MPRO, ENRG, dan DSSA justru menjadi penopang utama.
Tekanan di pasar domestik terjadi meski bursa Amerika Serikat ditutup menguatโDow Jones naik 0,59%, S&P 500 +1,18%, dan Nasdaq melonjak 2,07%. Sentimen hati-hati di dalam negeri diperkuat oleh jadwal penawaran umum perdana (IPO) pada awal Juli yang diperkirakan menyerap likuiditas. Nilai transaksi harian hanya Rp9,10 triliun dengan volume 15,48 miliar saham, sementara ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia masing-masing terkoreksi 1,77% dan 2,22%.
Dari sisi korporasi, PT Futura Energi Global (FUTR) terus mengakselerasi transformasi ke energi baru terbarukan. Perusahaan mengembangkan proyek PLTS 130 MW di Bali, sementara pemegang saham pengendali melalui PT Aurora Dhana Nusantara memiliki aset panas bumi 220 MW yang telah mengantongi PPA senilai US$80 juta. Secara total, FUTR memiliki pipeline EBT 350 MW yang terdiri dari panas bumi, PLTS, dan minihidro. Saham FUTR saat ini bergerak di rentang Rp143โRp187.
PT Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) berencana melepas 99,90% kepemilikan di anak usaha tambang batu bara, PT Sintesa Bara Gemilang (SBG), kepada Indo Panca Borneo. Nilai transaksi Rp1,79 triliun, lebih tinggi Rp60 miliar dari penilaian independen. Divestasi ini akan menurunkan total aset konsolidasi dari US$1,60 miliar menjadi US$1,36 miliar dan memangkas liabilitas dari US$1,01 miliar menjadi US$776,78 juta. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) diproyeksikan turun dari 169,33% menjadi 132,88%, sementara laba bersih proforma melonjak dari US$1,50 juta menjadi US$7,32 juta. Rencana ini masih menunggu persetujuan RUPSLB pada 30 Juni 2026, dengan target penyelesaian akhir Desember 2026.
PT Ciputra Development (CTRA) mengumumkan dividen tunai Rp36 per saham untuk tahun buku 2025, total Rp667,28 miliar, setara rasio pembayaran 25,05%. Pendapatan perseroan naik 12,77% menjadi Rp12,62 triliun, laba bersih meningkat 25,24% menjadi Rp2,66 triliun, dan EPS dasar naik dari Rp115 menjadi Rp144. Dengan harga saham Rp560, dividen yield mencapai 6,43%. Cum dividen dijadwalkan 6 Juli 2026, pembayaran 24 Juli 2026.
Ke depan, pasar masih akan mencermati realisasi IPO dan aksi korporasi emiten sebagai katalis. Tekanan jual asing dan minimnya likuiditas menjadi ujian bagi IHSG untuk bertahan di level psikologis 5.800. Akankah sektor properti dan energi terbarukan mampu menjadi penopang di tengah ketidakpastian?



