Ringgit Menguat di Awal Perdagangan, Dolar AS Tertekan Data Ketenagakerjaan
Baca dalam 60 detik
- Ringgit Malaysia dibuka menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa pagi, didorong pelemahan indeks dolar AS (DXY) di tengah antisipasi data tenaga kerja dan kepercayaan konsumen AS.
- Ekonom Bank Muamalat Malaysia memperkirakan ringgit akan bergerak dalam rentang 4,06 hingga 4,08 per dolar AS, dengan fokus pasar tertuju pada rilis JOLTS dan Conference Board Consumer Confidence malam ini.
- Penguatan ringgit juga tercermin terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya, meski masih bervariasi terhadap mata uang regional Asia Tenggara.

Ringgit Malaysia mencatatkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan Selasa (30/6), seiring indeks dolar AS (DXY) yang terus melemah. Pergerakan ini terjadi di tengah pelaku pasar yang bersiap menyambut rilis data ketenagakerjaan dan kepercayaan konsumen AS yang dijadwalkan keluar malam ini.
Pada pukul 08.03 waktu Kuala Lumpur, mata uang Negeri Jiran diperdagangkan di level 4,0605/0730 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi penutupan Senin di 4,0680/0735. Pelemahan DXY sebesar 0,25 persen menjadi 101,10 poin menjadi katalis utama penguatan ringgit, setelah sebelumnya dolar AS bertahan di level tinggi karena minimnya data ekonomi yang signifikan.
Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menilai bahwa dolar AS masih berada pada posisi yang relatif tinggi meskipun tanpa adanya data baru yang menggerakkan pasar. โKami memperkirakan ringgit akan bergerak dalam kisaran 4,06 hingga 4,08, seiring para trader terus mencermati data-data AS,โ ujarnya kepada Bernama.
Dari sisi mata uang utama lainnya, ringgit menunjukkan kinerja beragam. Terhadap poundsterling Inggris, ringgit justru melemah ke 5,3810/3975 dari 5,3767/3839. Namun, mata uang Malaysia berhasil menguat terhadap euro menjadi 4,6363/6506 dan terapresiasi terhadap yen Jepang ke 2,5073/5151. Sementara itu, di kawasan regional, ringgit menguat terhadap dolar Singapura ke 3,1406/1505, hampir tidak berubah terhadap rupiah Indonesia di 227,4/228,2, dan flat terhadap peso Filipina di 6,63/6,66. Ringgit juga mencatat kenaikan tipis terhadap baht Thailand ke 12,1966/2412.
Bagi Indonesia, pergerakan ringgit yang hampir flat terhadap rupiah mengindikasikan bahwa tekanan eksternal terhadap mata uang Asia masih relatif seimbang. Pelemahan dolar AS yang berkelanjutan dapat memberikan ruang bagi penguatan rupiah, meskipun sentimen pasar masih bergantung pada data ekonomi AS yang akan dirilis. Pelaku pasar di Indonesia perlu mencermati data JOLTS dan kepercayaan konsumen AS karena dapat mempengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed dan arus modal ke emerging market, termasuk Indonesia.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS malam ini, terutama Job Openings and Labour Turnover Survey (JOLTS) dan Conference Board Consumer Confidence. Jika data menunjukkan perbaikan, dolar AS berpotensi kembali menguat, menekan ringgit dan mata uang Asia lainnya. Sebaliknya, data yang mengecewakan dapat memperpanjang pelemahan dolar dan memberikan momentum positif bagi mata uang regional. Pertanyaannya, akankah ringgit mampu bertahan di bawah level 4,07 atau justru kembali tertekan?



