Kisah Kejutan Piala Dunia 2026: Cabo Verde dan Kongo DR Buktikan Diri Layak Bersaing
Baca dalam 60 detik
- Cabo Verde dan Kongo DR menjadi tim debutan dan kuda hitam yang lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026, mengalahkan tim-tim unggulan.
- Legenda sepak bola Hristo Stoichkov dan Diego Forlan memuji disiplin, kebahagiaan, dan semangat tanpa beban kedua tim sebagai kunci sukses mereka.
- Kisah kedua tim menginspirasi negara berkembang dan menunjukkan bahwa Piala Dunia yang lebih inklusif mampu melahirkan cerita kejutan yang segar.

Piala Dunia 2026 yang baru pertama kali digelar dengan format 48 tim telah melahirkan dua cerita kejutan paling menarik: Cabo Verde dan Republik Demokratik Kongo (Kongo DR) berhasil menembus babak 32 besar, membuktikan bahwa tim debutan dan kuda hitam mampu bersaing di panggung terbesar sepak bola dunia.
Cabo Verde, yang tampil perdana di Piala Dunia, finis sebagai runner-up Grup H di bawah Spanyol dan menyingkirkan Uruguay serta Arab Saudi. Sementara Kongo DR, yang hanya sekali tampil pada 1974 dengan nama Zaire dan tanpa mencetak gol, kini melaju setelah mengalahkan Jamaika di play-off dan finis sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Kedua tim akan menghadapi lawan berat: Cabo Verde bertemu Argentina pada 3 Juli di Miami Stadium, sedangkan Kongo DR berhadapan dengan Inggris.
Legenda Bulgaria Hristo Stoichkov, yang membawa timnya ke semifinal Piala Dunia 1994, menyebut pencapaian Cabo Verde sebagai fairy tale. "Apa yang mereka lakukan fenomenal. Mereka akan menghadapi Argentina, tapi sejauh ini luar biasa, seperti dongeng," ujarnya dalam FIFA Podcast. Stoichkov menekankan bahwa kesuksesan ini bukan kebetulan, melainkan hasil kerja keras bertahun-tahun. "Saya tidak terkejut dengan Cabo Verde atau Kongo DR. Semua orang bekerja keras untuk acara besar ini. Setiap empat tahun Anda mempersiapkan pesta besar Piala Dunia."
Diego Forlan, mantan striker Uruguay yang meraih Bola Emas Piala Dunia 2010, menambahkan bahwa Cabo Verde bermain tanpa tekanan dan menikmati setiap momen. "Mereka tidak punya beban. Sebagian besar pemain bermain di divisi bawah Portugal, tapi mereka berpengalaman, kuat secara fisik, dan kiper Vozinha tampil gemilang. Mereka adalah kuda hitam yang selalu muncul di setiap Piala Dunia," kata Forlan. Ia optimistis pertandingan melawan Argentina akan menarik, meski Lionel Messi dan kawan-kawan diunggulkan.
Bagi Indonesia, kisah Cabo Verde dan Kongo DR menjadi cermin bahwa negara dengan infrastruktur sepak bola yang belum sempurna pun bisa bersinar di panggung dunia. Kedua tim tidak memiliki liga profesional besar, tetapi mengandalkan pemain diaspora dan pembinaan jangka panjang. Ini menjadi pelajaran berharga bagi PSSI dan klub-klub Indonesia untuk terus mengembangkan pemain muda dan memperkuat kompetisi domestik, bukan hanya bergantung pada naturalisasi instan.
Keberhasilan kedua tim juga menegaskan bahwa format 48 tim Piala Dunia 2026, yang sempat dikritik karena dianggap melemahkan kualitas, justru memberikan kesempatan bagi negara-negara kecil untuk bermimpi. Stoichkov dan Forlan sepakat bahwa cerita seperti ini yang membuat Piala Dunia selalu istimewa. "Mereka menikmati permainan, dan ketika Anda tidak punya beban, Anda bisa bermain melawan siapa pun," kata Forlan.
Pertanyaan besarnya: akankah Cabo Verde dan Kongo DR mampu melanjutkan kejutan mereka ke babak 16 besar? Atau akankah Argentina dan Inggris menghentikan langkah mereka? Yang jelas, kedua tim telah menuliskan sejarah dan memberikan inspirasi bagi generasi baru di negara mereka, serta membuktikan bahwa di Piala Dunia, segalanya mungkin terjadi.



