IHSG Merah, Asing Justru Borong 10 Saham Ini: Ada Apa?
Baca dalam 60 detik
- IHSG anjlok 1,28% ke 5.820,79 pada Senin (29/6/2026) dengan net sell asing mencapai Rp881,58 miliar.
- Di tengah tekanan jual, investor asing diam-diam mengakumulasi sejumlah saham pilihan, tercermin dari data net foreign buy Stockbit.
- Aksi borong asing ini menjadi sinyal bahwa pelaku global masih melihat peluang di saham-saham tertentu meski pasar sedang tertekan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk pada awal pekan terakhir Juni, ditutup melemah 1,28% ke level 5.820,79. Di tengah laju merah yang melanda mayoritas emiten, investor asing justru tercatat melakukan aksi borong diam-diam terhadap sepuluh saham pilihan, sebuah fenomena yang menarik perhatian pelaku pasar.
Data perdagangan Senin (29/6/2026) menunjukkan nilai transaksi yang tergolong sepi, hanya Rp8,69 triliun dengan 13,29 miliar saham berpindah tangan dalam 1,21 juta kali transeksi. Sebanyak 467 saham tertekan, sementara hanya 228 saham yang berhasil menguat. Namun, di balik pelemahan tersebut, asing mencatatkan pembelian bersih (net foreign buy) pada sejumlah saham tertentu, menurut data dari platform analisis saham Stockbit.
Meski secara total asing masih melakukan penjualan bersih sebesar Rp881,58 miliarโdengan rincian Rp854,10 miliar di pasar reguler dan Rp27,48 miliar di pasar negosiasi dan tunaiโaksi akumulasi pada saham-saham spesifik ini menjadi sinyal bahwa investor global masih selektif mencari peluang di tengah tekanan pasar.
Fenomena ini kerap terjadi ketika investor asing melakukan strategi bottom fishingโmembeli saham-saham yang dinilai undervalued saat pasar sedang lesu. Langkah ini biasanya didasari oleh analisis fundamental yang kuat, seperti prospek laba perusahaan, valuasi yang murah, atau sentimen positif di sektor terkait. Bagi investor ritel Indonesia, aksi borong asing ini bisa menjadi pemicu untuk mencermati saham-saham yang sama, meski tetap perlu diingat bahwa strategi investor institusi besar tidak selalu bisa ditiru mentah-mentah.
Dari sisi domestik, pelemahan IHSG sejalan dengan tekanan di bursa global akibat kekhawatiran atas kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan perlambatan ekonomi China. Namun, aksi beli asing di tengah badai jual justru menunjukkan bahwa masih ada keyakinan terhadap fundamental ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Sektor-sektor seperti perbankan, konsumen, dan infrastruktur kerap menjadi incaran asing karena dianggap tahan banting.
Pertanyaan besarnya kini: apakah aksi borong ini hanya bersifat sementara atau merupakan awal dari arus masuk modal asing yang lebih besar? Para analis memperkirakan bahwa jika IHSG mampu bertahan di level psikologis 5.800, peluang rebound terbuka lebar. Namun, investor tetap diingatkan untuk waspada terhadap volatilitas jangka pendek dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.



