Samurai Biru Makin Dekat: Moriyasu Yakin Jepang Tak Lagi Jauh dari Tim Raksasa
Baca dalam 60 detik
- Jepang nyaris menumbangkan Brasil di babak 32 besar Piala Dunia sebelum kebobolan menit akhir, menandai peningkatan level kompetitif mereka.
- Pelatih Hajime Moriyasu menilai pengalaman pemain pengganti yang tampil solid menjadi modal berharga bagi masa depan sepak bola Jepang.
- Kekalahan ini menjadi tolok ukur bahwa Jepang kini mampu bersaing dengan tim elite, meski masih perlu asah transisi dan penguasaan bola.

Jepang kembali harus mengakui keunggulan Brasil di pentas Piala Dunia, namun kekalahan 1-2 pada babak 32 besar di Houston, Senin (29/6), justru meninggalkan kesan berbeda. Pelatih Hajime Moriyasu menegaskan bahwa jarak antara timnya dengan raksasa sepak bola seperti Brasil kini semakin tipis, meski hasil akhir belum berpihak.
Brasil, yang lima kali menjadi juara dunia, nyaris tersingkir lebih awal setelah Jepang unggul lebih dulu di babak pertama. Gol penyeimbang baru tercipta di awal babak kedua, dan gol kemenangan Brasil baru lahir melalui Gabriel Martinelli di masa injury time. Sepanjang laga, Samurai Biru tampil disiplin, menekan ruang, dan memutus aliran bola lawan โ sesuatu yang jarang terlihat dari tim Asia saat berhadapan dengan negara sepak bola sekelas Brasil.
Bagi Jepang, laga ini bukan sekadar kekalahan. Ini adalah bukti bahwa pendekatan sistematis dalam pembinaan pemain mulai membuahkan hasil. Moriyasu menyebut bahwa kedalaman skuad menjadi salah satu kekuatan utama. Beberapa pemain pelapis yang dimainkan karena cedera rekan setim justru tampil meyakinkan. "Ini adalah salah satu poin kuat tim Jepang. Semakin banyak pemain yang mendapatkan pengalaman seperti ini akan berkontribusi pada pertumbuhan sepak bola Jepang," ujarnya.
Moriyasu juga mengakui bahwa timnya masih perlu meningkatkan transisi dari bertahan ke menyerang, terutama saat menghadapi tim yang mampu menguasai bola dalam waktu lama seperti Brasil. Namun, ia memuji semangat anak asuhnya yang tidak gentar bermain terbuka. "Apa yang saya katakan kepada pemain adalah bermain seolah kita kembali ke 0-0. Bertahan akan mengarah ke serangan, dan itu yang saya sampaikan," jelas Moriyasu.
Kegagalan meraih kemenangan perdana di babak gugur Piala Dunia memang mengecewakan. Namun, bagi pengamat sepak bola Asia, performa Jepang kali ini menjadi sinyal bahwa hierarki kekuatan global mulai bergeser. Tim-tim Asia kini tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan ancaman nyata bagi negara-negara tradisional. Indonesia, yang tengah membangun fondasi sepak bola nasional, bisa menjadikan pendekatan Jepang sebagai peta jalan: investasi pada pembinaan usia muda dan keberanian memberi menit bermain di panggung besar.
Ke depan, Jepang dihadapkan pada regenerasi dan persiapan menuju Piala Dunia 2026. Pertanyaan besarnya: mampukah Samurai Biru akhirnya memutus rantai kegagalan di babak gugur, atau justru negara Asia lain yang lebih dulu menembus tembok itu?



