Kebakaran TPA Jatiwaringin Hari Keempat: Warga Gelar Salat Istisqa, BNPB Siapkan Hujan Buatan
Baca dalam 60 detik
- Ratusan warga menggelar salat minta hujan di lokasi kebakaran TPA Jatiwaringin yang sudah berlangsung empat hari.
- BNPB masih menunggu kondisi atmosfer untuk melakukan operasi modifikasi cuaca guna mempercepat pemadaman.
- Petugas gabungan berhasil mengendalikan 30 persen area terbakar, namun angin kencang masih menjadi kendala utama.

Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, memasuki hari keempat pada Jumat (3/7) tanpa tanda-tanda mereda. Ratusan warga yang terdampak asap dan kekhawatiran akan meluasnya api pun menggelar salat istisqa di halaman Masjid Jami Al Mujahidin, memohon turunnya hujan sebagai upaya spiritual di tengah keterbatasan penanganan darat dan udara.
Sejak Selasa (30/6) lalu, timbunan sampah di TPA seluas puluhan hektar itu terbakar hebat. Hingga Jumat pagi, api masih terlihat menyala di sejumlah titik, sementara asap pekat membumbung ke angkasa dan terbawa angin ke arah barat. Kondisi ini memaksa petugas gabungan dari BNPB, TNI, Polri, pemadam kebakaran, dan relawan bekerja ekstra keras. Dua helikopter water bombing dikerahkan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses dari darat, sementara 18 unit mobil pemadam dan alat berat terus beroperasi mengurai tumpukan sampah yang membara.
Menurut Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan, sekitar 30 persen area yang terbakar telah berhasil dipadamkan. Namun, tantangan terbesar adalah embusan angin yang cukup kencang, terutama pada siang hari, yang membuat api mudah merambat ke area lain. "Kawan-kawan petugas ini bekerjanya dimaksimalkan dari pagi, siang, malam," ujarnya di lokasi. Untuk mempercepat penanganan, 30 personel Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan akan diterjunkan dengan metode injeksi—memasukkan air langsung ke dalam tumpukan sampah melalui pipa yang dilubangi—yang diharapkan mulai beraksi siang ini.
Di sisi lain, BNPB masih mengkaji operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan sebagai langkah strategis. Djohan menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC bergantung pada ketersediaan awan di atas lokasi kebakaran berdasarkan pemantauan BMKG. "Insyaallah mungkin dua sampai tiga hari ke depan kita bisa laksanakan," katanya. Sambil menunggu, akses jalan dari TPA menuju Kecamatan Sukadiri dibatasi hanya untuk kendaraan operasional, TNI, Polri, dan petugas medis.
Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Mauk, Agus Romadhoni, menegaskan bahwa salat istisqa bukan sekadar ritual, melainkan bentuk ikhtiar spiritual dan pengingat akan pentingnya menjaga lingkungan. "Harapan kita, lewat musibah ini kita disadarkan untuk menjaga lingkungan, lebih mendekatkan diri kepada Allah," ucapnya. Ia juga berharap kebakaran ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah.
Kebakaran TPA Jatiwaringin menyoroti persoalan kronis pengelolaan sampah di Indonesia, terutama di daerah penyangga Jakarta seperti Tangerang. TPA yang sudah overload dan minim sistem pengelolaan gas metana kerap memicu kebakaran, terutama di musim kemarau. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan: apakah penanganan jangka pendek seperti water bombing dan OMC cukup, atau diperlukan reformasi sistemik dalam pengelolaan sampah nasional? Tanpa perubahan mendasar, kebakaran serupa berpotensi terulang di berbagai TPA lain di Indonesia.



