Kebakaran TPA Jatiwaringin: 64 Warga Dievakuasi, Water Bombing Terkendala Medan
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 33 kepala keluarga (64 jiwa) terdampak asap kebakaran TPA Jatiwaringin di Mauk, Tangerang, telah dipindahkan ke hunian sementara.
- Polda Banten mengerahkan personel Samapta dan Brimob untuk membantu pemadaman, sementara BNPB mengoperasikan helikopter water bombing yang baru berjalan satu jam.
- Pembukaan jalur darurat menjadi prioritas agar mobil pemadam bisa menjangkau titik api di puncak tumpukan sampah yang sulit diakses.

Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, yang telah berlangsung sejak Selasa (29/6), memaksa 33 kepala keluarga atau 64 jiwa meninggalkan rumah mereka. Kepolisian Daerah Banten bersama jajaran Polresta Tangerang mengevakuasi warga ke hunian sementara yang dinilai lebih aman dari paparan asap dan potensi meluasnya api.
Kepala Bidang Humas Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/7), menyatakan bahwa evakuasi dilakukan secara cepat untuk memastikan keselamatan warga. "Kami telah mengevakuasi 33 KK (64 jiwa) ke tempat yang layak agar mereka dapat tinggal dengan aman dan nyaman," ujarnya. Selain evakuasi, Polda Banten juga menyiapkan personel Direktorat Samapta dan Satuan Brimob untuk turut serta dalam pemadaman, serta membagikan masker kepada petugas di lapangan.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan dua helikopter untuk melakukan water bombing guna memadamkan api dari udara. Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, mengakui bahwa operasi udara tersebut belum maksimal. "Water bombing baru aktif mulai kemarin. Itu pun belum maksimal, hanya sampai 1 jam. Karena baru digeser, nanti kita maksimalkan," katanya. Ia menambahkan, penyiraman akan terus dilakukan secara bertahap untuk meminimalkan kobaran api yang masih tersebar di puncak tumpukan sampah.
Kendala medan menjadi tantangan utama dalam pemadaman. Tumpukan sampah yang tinggi dan tidak rata menyulitkan mobil pemadam kebakaran untuk mendekati titik api. BNPB bersama Pemerintah Kabupaten Tangerang saat ini tengah membuka jalur terobos agar kendaraan dan selang pemadam bisa mencapai lokasi. "Salah satunya upaya pembuatan jalan terobos, sehingga nanti kendaraan ataupun selang dari rekan-rekan pemadam kebakaran bisa masuk," jelas Djohan.
Kebakaran TPA Jatiwaringin ini menjadi pengingat akan risiko pengelolaan sampah yang kurang memadai di berbagai daerah. Di Indonesia, kebakaran TPA kerap terjadi saat musim kemarau akibat gas metana yang mudah terbakar dari tumpukan sampah. Peristiwa ini juga menyoroti perlunya investasi dalam teknologi pengolahan sampah yang lebih modern, seperti landfill gas capture atau pengomposan, untuk mengurangi potensi bencana serupa di masa depan.
Ke depan, efektivitas water bombing dan pembukaan jalur darurat akan menentukan seberapa cepat api dapat dipadamkan. Namun, tanpa perbaikan sistemik dalam manajemen TPA, risiko kebakaran dan dampak kesehatan bagi warga sekitar akan terus mengintai. Akankah peristiwa ini mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat transformasi pengelolaan sampah?



