Skillet KL Hadirkan Menu Musim Panas: Perpaduan Cita Rasa Eropa dan Bumbu Nusantara
Baca dalam 60 detik
- Restoran fine dining Skillet di Kuala Lumpur meluncurkan menu degustasi musim panas 'Midsummer Terroir' seharga RM530++ per orang.
- Chef Raymond Tham kini menggunakan 75% bahan lokal Malaysia, termasuk sayuran Eropa yang ditanam petani lokal, untuk menciptakan hidangan bergaya Eropa.
- Menu ini menampilkan pengaruh koki Swedia Eric Lichtenstein, dengan elemen Nordik yang dipadukan bahan Asia Tenggara seperti serai dan madu Tualang.

Setelah 11 tahun berkarya, Skillet, restoran fine dining pionir di Klang Valley, kembali mengejutkan para pencinta kuliner dengan menu degustasi musim panas terbarunya. Bertajuk 'Midsummer Terroir', menu ini bukan sekadar sajian mewah, melainkan pernyataan berani tentang bagaimana cita rasa Eropa dapat berpadu harmonis dengan kekayaan bahan pangan lokal Malaysia.
Chef Raymond Tham, pendiri Skillet yang juga dikenal sebagai koki di balik restoran modern Malaysia Beta, mengungkapkan bahwa transformasi ini merupakan buah dari perjalanan panjang industri kuliner Malaysia. Jika dulu ia mengimpor hampir seluruh bahan baku, kini 75% bahan yang digunakan di Skillet berasal dari pemasok lokal. "Pertanian Malaysia semakin matang. Petani lokal kini bahkan menanam sayuran 'Eropa' seperti artichoke Yerusalem dan kohlrabi," ujar Tham.
Langkah ini tidak hanya mendukung komunitas petani kecil, tetapi juga menjawab selera konsumen yang semakin terdidik. Menurut Tham, meningkatnya perjalanan dan daya beli masyarakat Malaysia telah membuat mereka lebih terbuka terhadap eksperimen rasa. Skillet pun memanfaatkan momen ini untuk menawarkan pengalaman bersantap yang unik: teknik Eropa dengan jiwa lokal.
Menu 'Midsummer Terroir' yang dibanderol RM530++ per orang ini juga menandai kehadiran koki Swedia Eric Lichtenstein, finalis MasterChef Swedia, yang bergabung dengan chef de cuisine Eric Lee. Sentuhan Nordik terlihat jelas pada hidangan seperti Sweet Potato Raggmunk—pancake kentang manis khas Swedia yang dipadukan dengan keju banon Prancis dan madu Tualang dari Taman Negara, Pahang. Perpaduan rasa manis dan sedikit sepat dari madu menciptakan harmoni yang tak terduga.
Hidangan lain yang patut dicatat adalah Striped Jack dengan kombu, dill, dan pomelo. Ikan ini menawarkan tekstur lembut yang diperkuat oleh aroma herbal dill dan ledakan rasa segar dari pomelo. Sementara itu, hidangan cumi-cumi lokal (sotong jarum) yang dibakar arang diberi sentuhan lavender—terinspirasi ladang lavender di Provence, Prancis—yang beradu dengan serai khas Asia Tenggara. "Hal-hal yang terdengar aneh di atas kertas sering kali menjadi penemuan paling menakjubkan dalam kenyataan," kata Tham.
Untuk hidangan utama, Dry-Aged Duck Breast menjadi bintang. Tham, yang sejak awal menggunakan bebek Cherry Valley asal Penang, telah menguasai teknik mengolahnya hingga sempurna. Bebek dengan kulit renyah keemasan dan daging empuk ini disajikan dengan nanas MD2 fermentasi, dauphinoise, dan kroppkaka (pangsit kentang Swedia). Nanas fermentasi memberikan sentuhan tajam dan funky yang memperkaya rasa.
Penutup yang tak boleh dilewatkan adalah 'Texture of Chocolate', hidangan legendaris yang telah setia menemani Skillet sejak awal. Versi terbarunya menampilkan cokelat pirang dengan lemon dan teh asap, disajikan dalam bentuk bola yang harus dipecahkan dengan palu kecil. Rasa citrus yang segar memberikan akhir yang ringan dan musim panas.
Di balik kesuksesan ini, Tham kini lebih banyak berperan sebagai mentor. Ia ingin membentuk lebih banyak koki muda berbakat di Malaysia, sebuah misi yang ia jalani dengan serius. "Saya menetapkan arah, lalu kedua Eric akan mengusulkan ide, kami berdiskusi, melakukan riset, dan menyusun menu. Peran saya adalah mencetak lebih banyak talenta untuk negara ini," tutup Tham.
Dengan pendekatan yang menggabungkan warisan Eropa dan semangat lokal, Skillet membuktikan bahwa fine dining tidak melulu soal kemewahan impor, tetapi juga tentang merayakan kekayaan bumi sendiri. Pertanyaannya, apakah tren ini akan diikuti oleh restoran lain di Asia Tenggara?



