Ricki Lake Ungkap Proses Audisi Talk Show Ikonik dan Alasan Hengkang Pasca 9/11
Baca dalam 60 detik
- Pembawa acara Ricki Lake mengaku terpilih dari 100 kandidat untuk memandu talk show-nya yang kemudian menjadi fenomena budaya.
- Kesuksesan acara yang tayang 1993–2004 tidak pernah ia duga; ia merasa seperti 'kebetulan' yang meledak.
- Peristiwa 9/11 yang ia saksikan langsung dari apartemennya di New York menjadi titik balik yang mendorongnya meninggalkan dunia talk show.

Ricki Lake, pembawa acara talk show legendaris era 1990-an, mengungkapkan bahwa dirinya hanyalah satu dari seratus perempuan yang mengikuti audisi untuk memandu acara yang kemudian melambungkan namanya. Dalam sebuah unggahan di Instagram, perempuan berusia 57 tahun itu menceritakan proses seleksi yang ketat dan tak terduga hingga akhirnya ia terpilih membawakan Ricki Lake yang tayang dari 1993 hingga 2004.
Lake menjelaskan bahwa ia pada dasarnya “dipilih” untuk menjadi pembawa acara. “Saya satu dari 100 perempuan yang mereka temui. Ada jurnalis, model, dan berbagai tipe orang lain. Saya seorang aktris. Saya bertemu dengan Garth Ancier dan timnya, dan mereka memilih saya untuk membuat pilot,” ujarnya. Saat itu usianya baru 23 tahun ketika pilot dibuat, dan setahun kemudian acaranya mulai mengudara. “Acara ini seperti sukses dalam semalam,” kenangnya.
Meski acaranya meraih rating tinggi dan menjadi fenomena budaya, Lake mengaku tidak pernah menyangka akan sebesar itu. “Sampai hari ini, saya melihat ke belakang. Itu adalah fenomena yang tidak diduga siapa pun, terutama saya. Saya benar-benar tidak pernah berpikir bahwa acara itu akan menjadi hit seperti yang terjadi dan menjadi titik kultural bagi begitu banyak orang,” tambahnya.
Namun, kesuksesan itu tidak bertahan selamanya. Lake memutuskan untuk mengakhiri acaranya pada 2004, dan ia mengungkapkan bahwa peristiwa 9/11 menjadi pemicu utama perubahan besar dalam hidupnya. Dalam wawancara dengan podcast On Par with Maury Povich, ia mengaku bisa saja melanjutkan acaranya selama satu dekade lagi. “Saya membuat pilihan itu. 9/11 adalah perubahan lintasan besar dalam hidup saya. Setiap aspek kehidupan saya berubah setelah menyaksikan pengalaman itu dari apartemen saya di West Village,” katanya.
Lake menggambarkan momen traumatis itu dengan jelas. “Saya sangat ketakutan melihat pesawat itu terbang menyusuri Hudson dan menghantam gedung itu. Saya memiliki anak berusia dua bulan dan empat tahun. Jadi saya adalah seorang ibu baru yang menyusui, melindungi anak-anak saya. Saya merasa seperti dunia akan berakhir hari itu. Dan saya berkata pada diri sendiri—saya mendapat pencerahan di atap gedung saya saat menyaksikan semuanya terjadi—bahwa saya akan meninggalkan New York.”
Keputusan Lake untuk berhenti di puncak karier menunjukkan bagaimana peristiwa global dapat mengubah prioritas seseorang. Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini mengingatkan bahwa kesuksesan karier tidak selalu sejalan dengan kebahagiaan pribadi. Banyak figur publik Tanah Air yang juga memilih mundur dari sorotan demi keluarga atau kesehatan mental. Pertanyaannya, apakah kita mampu mengambil keputusan serupa ketika hidup memberi tanda?



