Gelombang Panas Eropa Dongkrak Ekspor AC China, Peluang bagi Industri Dalam Negeri?
Baca dalam 60 detik
- Eropa yang dilanda gelombang panas bersejarah mendorong lonjakan permintaan AC portabel buatan China, dengan ekspor ke Uni Eropa naik 43,2% pada semester I-2026.
- Produsen China seperti Midea dan Gree memanfaatkan celah pasar Eropa yang minim penetrasi AC (20%) dengan produk mudah pasang yang sesuai regulasi bangunan bersejarah.
- Fenomena ini membuka peluang bagi industri AC Indonesia untuk merebut pangsa pasar ekspor, namun tantangan biaya instalasi dan standar teknis masih membayangi.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak pertengahan Juni 2026 telah memicu lonjakan permintaan luar biasa terhadap pendingin ruangan, dan produsen China menjadi pemasok utama yang kebanjiran order.
Suhu mencapai 40 derajat Celcius di Polandia, Republik Ceko, dan Jerman pada akhir pekan lalu, memicu lebih dari seribu kematian lebih di Prancis dan membuat sistem kesehatan kewalahan. Namun di tengah krisis iklim ini, hanya sekitar 20 persen rumah tangga Eropa yang memiliki AC, menurut data Badan Energi Internasional (IEA). Sebagian besar bangunan tua dirancang untuk isolasi musim dingin, bukan untuk meredam panas musim panas yang kian ekstrem.
Kondisi ini menjadi berkah bagi pabrikan China. Midea, raksasa elektronik asal Guangdong, melaporkan penjualan AC di Prancis, Spanyol, Jerman, dan Inggris naik lebih dari 70 persen year-on-year. Pabriknya di Guangdong beroperasi nonstop untuk memproduksi model PortaSplit yang diklaim tidak memerlukan instalasi rumit—cukup dipasang di jendela tanpa bor atau alat khusus. Gree Electric Appliances juga mencatat kenaikan penjualan di Prancis, Italia, dan Spanyol sebesar 40 persen pada Januari–Juni 2026, dengan stok AC portabel nyaris habis di distributor global.
Fenomena ini tidak lepas dari regulasi ketat di kota-kota bersejarah Eropa seperti Paris, di mana pemasangan AC split konvensional dilarang karena mengubah fasad bangunan. Produk portabel buatan China yang mudah dipasang menjadi solusi ideal. Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu bahkan memesan 30.000 unit AC untuk rumah sakit, sementara politisi Geoffroy Boulard mendatangkan AC Haier ke sekolah-sekolah di distriknya setelah mengkritik lambannya respons pemerintah.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang sekaligus tantangan. Sebagai salah satu produsen AC di Asia Tenggara, Indonesia bisa memanfaatkan celah pasar Eropa yang masih rendah penetrasi AC. Namun, persaingan ketat dengan China yang sudah menguasai rantai pasok global, serta kebutuhan akan inovasi produk yang sesuai standar teknis dan estetika Eropa, menjadi pekerjaan rumah. Produsen Korea Selatan dan Jepang seperti Samsung dan LG juga sudah kebanjiran permintaan, menunjukkan bahwa pasar ini tidak mudah ditembus.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah industri AC Indonesia mampu beradaptasi dengan cepat untuk merebut pangsa pasar yang ditinggalkan oleh keterbatasan pasokan China? Ataukah gelombang panas ini hanya akan memperkuat dominasi China sebagai pemasok utama dunia? Jawabannya bergantung pada kemampuan inovasi dan keberanian pemain lokal untuk masuk ke segmen produk portabel yang ramah instalasi.



