Durian Murah Melimpah di Malaysia, Petani Terdesak Harga Anjlok
Baca dalam 60 detik
- Malaysia mengalami kelebihan pasokan durian akibat panen raya dan matangnya ribuan pohon yang ditanam saat booming ekspor ke China, membuat harga jual petani terpangkas hingga setengahnya.
- Di Singapura dan Malaysia, konsumen menikmati durian gratis atau diskon besar, sementara petani merugi karena kualitas buah muda yang belum konsisten dan cuaca buruk memperparah situasi.
- Pemerintah Malaysia turun tangan dengan membeli durian petani kecil, sementara asosiasi industri berupaya memperkuat pemasaran ke China untuk menjaga harga premium jangka panjang.

Gelombang durian murah tengah melanda Malaysia dan Singapura, memicu antrean panjang di gerai buah dan kepanikan di kalangan petani. Di Tampines, Singapura, pemilik kios Durian Ninja setiap hari membagikan 600 kilogram durian gratis sejak pertengahan Juni—masing-masing pembeli mendapat dua buah. Fenomena ini bukan aksi amal semata, melainkan cerminan krisis kelebihan pasokan yang menjungkirbalikkan pasar durian Asia Tenggara.
Malaysia, produsen sekitar 550.000 ton durian per tahun, tengah menghadapi musim panen yang luar biasa melimpah. Harga durian di tingkat petani ambrol drastis. Lu Yuee Thing, pemilik beberapa kebun durian di Raub, mengungkapkan bahwa Desember lalu ia masih bisa menjual Musang King seharga 13,50 ringgit (sekitar Rp46.000) per kilogram ke pengecer. Kini, harga yang ia terima hanya separuhnya. Petani lain, Han Sing Keng dari Johor, bahkan memotong harga Musang King hampir sepertiga menjadi 50 ringgit per kilogram. “Tekanan pasar terlalu berat,” keluhnya, sembari mengandalkan pisang untuk menutup kerugian.
Kelebihan pasokan ini, yang oleh sebagian pelaku industri disebut “tsunami durian”, merupakan buah dari booming perkebunan durian satu dekade lalu. Saat itu, permintaan China terhadap Musang King—varietas premium yang dijuluki “Hermès-nya durian”—melonjak drastis. Ribuan petani berbondong-bondong menebang karet dan kelapa sawit untuk menanam durian. “Pohon-pohon yang ditanam saat itu kini mulai berbuah serentak,” jelas Lu. Sayangnya, kualitas buah dari pohon muda belum konsisten. Lee Wah Chong, pemilik resort dan kebun durian di Malaka, menegaskan bahwa “meski pohon muda berbuah, kualitasnya tidak seragam.” Banyak durian yang membanjiri pasar dengan harga murah disebut tidak layak ekspor.
Cuaca buruk memperparah situasi. Hujan tak menentu dan angin kencang mengganggu penyerbukan, sementara pohon durian memerlukan cuaca panas sekitar sebulan untuk berbunga dan suhu lebih sejuk saat panen. Edwyn Chiang Kyn Hoe, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengembangan Industri Durian Internasional Malaysia (MIDIDA), menjelaskan bahwa kondisi cuaca sangat bervariasi antar wilayah. “Beberapa kebun mengalami curah hujan tidak normal saat berbunga, sementara yang lain panen normal,” ujarnya. Bagi petani yang sudah menderita akibat panen buruk, oversupply menjadi pukulan ganda.
Pemerintah Malaysia melalui Otoritas Pemasaran Pertanian Federal (FAMA) turun tangan dengan membeli durian dari petani kecil dengan harga dasar. “Kami berharap harga bisa pulih dalam beberapa pekan ke depan,” kata Wakil Direktur FAMA Faisal Iswardi Ismail kepada AFP. Sementara itu, MIDIDA menggelar acara promosi di China untuk menghubungkan eksportir Malaysia dengan importir China. “Kami ingin membangun industri durian premium yang bersaing pada kualitas, keaslian, dan asal-usul, bukan pada harga murah,” tegas Chiang.
Di sisi konsumen, durian murah menjadi berkah. Di Singapura, antrean panjang mengular di kios Durian Ninja. Cherng (69) mengaku bisa menikmati durian “hampir setiap hari” dengan kualitas baik dan harga hampir setengah musim lalu. Durian gratis habis dalam satu hingga dua jam, sisanya dijual mulai S$1 per buah ukuran kecil. Pemilik kios, Kee Eng Chai, berharap harga murah menarik generasi muda yang selama ini enggan membeli durian mahal. “Kami ingin anak muda mencoba lebih banyak varietas durian,” katanya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Sebagai sesama produsen durian di kawasan, Indonesia perlu mengantisipasi siklus oversupply serupa jika ekspansi kebun durian tidak diimbangi dengan pengelolaan rantai pasok dan diversifikasi pasar. Apakah petani durian Indonesia siap menghadapi “tsunami durian” versi mereka sendiri?



