Gencatan Senjata AS-Iran Mereda, Bursa Asia Mixed dan Harga Minyak Menguat
Baca dalam 60 detik
- AS dan Iran sepakat menghentikan serangan setelah akhir pekan penuh ketegangan, membuka peluang negosiasi lebih lanjut di Qatar.
- Pasar Asia bergerak mixed, dengan indeks Hong Kong dan Sydney menguat, sementara Tokyo dan Shanghai melemah; harga minyak naik tipis.
- Kekhawatiran gelembung AI dan data tenaga kerja AS menjadi fokus investor di tengah ketidakpastian geopolitik dan inflasi.

Bursa saham Asia ditutup mixed pada Senin (29/6/2026) sementara harga minyak mentah menguat tipis, setelah laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk menghentikan serangan balasan menyusul rentetan serangan akhir pekan yang memicu kekhawatiran baru akan stabilitas kawasan Teluk.
Kesepakatan gencatan senjata sementara ini muncul setelah Washington menyerang sepuluh target militer Iran dengan dalih agresi terhadap pelayaran komersial, dan Teheran membalas dengan menyerang pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain. Kedua negara Teluk itu mengecam serangan Iran. Namun, menurut pejabat senior AS yang dikutip media setempat, kedua pihak sepakat untuk tidak saling menyerang dan akan mengadakan pertemuan lanjutan di Qatar pada Selasa (30/6).
Ketenangan yang rapuh ini belum sepenuhnya memulihkan kepercayaan investor. Pasar masih bergulat dengan dampak krisis Timur Tengah dan kekhawatiran akan gelembung saham teknologi yang didorong oleh investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI). Indeks acuan di Hong Kong, Sydney, Wellington, Taipei, dan Manila ditutup hijau, sementara Tokyo, Seoul, Shanghai, Singapura, dan Jakarta tertekan.
Investor kini mengalihkan perhatian ke data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis akhir pekan ini. Data yang lebih kuat dari perkiraan dapat memicu aksi jual seperti yang terjadi bulan lalu, ketika Nasdaq jatuh 4% dalam sehari karena kekhawatiran suku bunga tinggi berkepanjangan. Sebaliknya, data yang lemah bisa meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga dan mendorong saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga.
Bank for International Settlements (BIS) dalam laporan tahunannya memperingatkan bahwa kekecewaan terhadap imbal hasil investasi AI dapat memicu penarikan pendanaan secara tiba-tiba dan mengubah booming belanja modal menjadi kehancuran investasi yang berkepanjangan. "Koreksi pasar saham besar bisa memiliki konsekuensi makroekonomi yang lebih besar saat ini dibandingkan masa lalu," tulis BIS.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian serius. Selat tersebut merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dan gas bumi, dan Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak mentahnya. Gangguan di jalur tersebut berpotensi mendorong harga energi domestik dan memperburuk tekanan inflasi yang sudah dirasakan akibat kenaikan harga pangan. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak lanjutan dari gejolak harga minyak global terhadap anggaran subsidi energi dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Analis IG Market Fabien Yip menilai bahwa data tenaga kerja AS pada Kamis mendatang akan menjadi penentu arah pasar jangka pendek. "Pengulangan data kuat bisa memicu rotasi serupa; sebaliknya, data lemah mungkin meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga dan mendorong saham sensitif suku bunga," ujarnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gencatan senjata AS-Iran akan bertahan dan menghasilkan kesepakatan permanen, atau hanya jeda singkat sebelum eskalasi baru. Sementara itu, pasar saham global masih harus mencerna risiko gelembung AI dan kebijakan moneter ketat The Fed. Dua variabel ini akan menentukan apakah reli pasar dapat berlanjut atau justru berbalik arah.



