IHSG Melonjak 2,46% di Sesi I, Saham BBCA Jadi Motor Utama
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup di 5.886,01 pada akhir sesi pertama Jumat (3/6/2026), naik 141,45 poin dengan 535 saham menguat.
- Kenaikan dipicu oleh data tenaga kerja AS yang mendingin dan pelemahan dolar, memperkuat ekspektasi The Fed menahan suku bunga.
- Meski rebound, IHSG masih berada dalam tren bearish dan perlu menembus level 6.450-6.550 untuk membalikkan arah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi pertama perdagangan Jumat (3/6/2026) dengan lonjakan signifikan, ditutup menguat 141,45 poin atau 2,46% ke posisi 5.886,01. Pergerakan ini didorong oleh aksi beli di hampir seluruh sektor, dengan saham perbankan dan konglomerat menjadi motor utama.
Data perdagangan menunjukkan optimisme pasar cukup tinggi. Sebanyak 535 saham berhasil mencatatkan kenaikan, sementara hanya 135 saham yang tertekan dan 289 saham stagnan. Namun, nilai transaksi masih tergolong rendah, hanya Rp6,42 triliun, dengan volume 10,98 miliar saham dalam 835.000 kali transaksi. Kapitalisasi pasar terkerek menjadi Rp10.308 triliun.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi penopang utama IHSG dengan kontribusi 22,11 poin. Harga saham BBCA naik 4,31% ke level 6.000, menandai pemulihan dari tekanan sebelumnya. Selain BBCA, saham konglomerat seperti BREN, AMMN, DCII, dan DSSA juga masuk dalam jajaran top movers, masing-masing menyumbang 10,47 poin, 10,13 poin, 9,47 poin, dan 4,3 poin.
Katalis positif datang dari Amerika Serikat. Data tenaga kerja AS terbaru memberikan sinyal bahwa ekonomi Negeri Paman Sam mulai mendingin. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang, mengurangi kekhawatiran akan kenaikan biaya pinjaman yang agresif. Di sisi lain, indeks dolar AS melemah ke 100,856, level terendah sejak 19 Juni 2026, yang mendorong investor melepas dolar dan berpotensi menguatkan rupiah.
Bagi investor Indonesia, pelemahan dolar dan potensi The Fed menahan suku bunga menjadi angin segar. Rupiah yang lebih stabil dapat menekan biaya impor dan mengurangi tekanan inflasi, sementara suku bunga rendah global mendorong aliran modal asing ke pasar saham domestik. Namun, IHSG masih menghadapi tantangan teknis. Meski berhasil memantul dari level 5.630, indeks masih berada dalam tren bearish dengan rangkaian lower high dan lower low yang belum terputus. Analis menilai IHSG perlu menembus level resistance 6.450-6.550 untuk mengonfirmasi pembalikan arah.
Ke depan, investor akan mencermati data inflasi AS dan perkembangan pasar tenaga kerja. Jika data menunjukkan pelemahan lebih lanjut, The Fed berpotensi tidak hanya menahan suku bunga tetapi juga mulai mempertimbangkan pemangkasan. Hal ini bisa menjadi katalis tambahan bagi IHSG untuk melanjutkan penguatan. Namun, jika data tenaga kerja kembali solid, tekanan jual bisa kembali terjadi. Pertanyaannya, mampukah IHSG mempertahankan momentum ini hingga akhir pekan?



