Don Carlo Ancelotti: Ketika Gol Penentu Brasil Disambut dengan 'Calma'
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Brasil Carlo Ancelotti kembali viral usai timnya menang dramatis 2-1 atas Jepang di Piala Dunia 2026.
- Ancelotti, yang dikenal tenang, justru meminta staf dan pemainnya tetap kalem setelah gol kemenangan menit akhir.
- Kekalahan ini membuat Jepang tersingkir di fase gugur, sementara Brasil melaju ke babak 16 besar.

Di tengah euforia gol kemenangan Brasil pada menit ke-96 yang memastikan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026, pelatih Carlo Ancelotti justru menjadi pusat perhatian dengan sikapnya yang kontras: bukannya ikut bersorak, ia justru berteriak 'calma, calma' kepada para pemain dan stafnya. Momen itu langsung menjadi bahan perbincangan di media sosial, memperkuat reputasi pelatih asal Italia tersebut sebagai figur paling tenang di pinggir lapangan.
Pertandingan yang berlangsung pada Senin (29/6/2026) itu menyajikan drama lengkap. Brasil tertinggal lebih dulu melalui gol Jepang, namun berhasil membalikkan keadaan berkat gol Casemiro dan Gabriel Martinelli di masa injury time. Gol Martinelli pada menit ke-90+6 memicu kegembiraan liar di kubu Brasil, namun Ancelotti tetap menunjukkan ekspresi datar khasnyaโhanya mengangkat alis dan memberi isyarat untuk menenangkan diri.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, sosok Ancelotti bukanlah nama asing. Pelatih berusia 67 tahun itu telah memenangkan lima liga top Eropa bersama Milan, Chelsea, Paris Saint-Germain, Real Madrid, dan Bayern Munichโsebuah rekor yang belum pernah dicapai pelatih lain. Ia juga memegang rekor lima gelar Liga Champions, menjadikannya salah satu arsitek permainan paling sukses dalam sejarah.
Ketenangan Ancelotti di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia menjadi kontras dengan atmosfer panas di stadion. Reaksi 'calma' ini bukanlah yang pertama kali terjadi; sebelumnya ia pernah menunjukkan sikap serupa saat Real Madrid mencetak gol penentu di Liga Champions. Menurut analis sepak bola, sikap tenang tersebut merupakan bagian dari filosofi kepelatihannya yang menekankan kendali emosi dan fokus jangka panjang.
Bagi publik Indonesia, momen ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya ketenangan dalam tekanan. Di tengah euforia sepak bola nasional yang kerap meluap-luap, gaya Ancelotti mengingatkan bahwa kemenangan besar sering kali diraih dengan kepala dingin. Apakah sikap 'calma' ini akan menjadi tren baru di kalangan pelatih Indonesia? Atau justru sebaliknya, emosi yang meledak-ledak tetap dianggap sebagai bagian dari gairah sepak bola? Yang jelas, Ancelotti sekali lagi membuktikan bahwa dirinya adalah maestro ketenangan di tengah badai.



