Naomi Osaka Pukau Wimbledon dengan Kimono Putih, Penghormatan untuk Jepang
Baca dalam 60 detik
- Naomi Osaka tampil memukau di Wimbledon dengan kimono putih panjang, memadukan aturan all-white turnamen dengan warisan budaya Jepang.
- Petenis berusia 28 tahun itu mengaku terinspirasi film Kill Bill dan ingin menunjukkan rasa hormat serta cinta pada Jepang melalui busana ikonik tersebut.
- Osaka berharap penampilan apiknya di lapangan bisa mendukung misinya untuk terus tampil beda, meski ia belum pernah lolos melewati babak ketiga Wimbledon.

Naomi Osaka kembali mencuri perhatian di Wimbledon, bukan hanya karena kemenangan gemilangnya atas Elsa Jacquemot, melainkan juga karena busana yang ia kenakan saat memasuki lapangan. Petenis Jepang kelahiran Jepang-Haiti itu tampil mengenakan kimono putih panjang penuh keanggunan, sebuah penghormatan terhadap budaya Jepang yang sekaligus mematuhi aturan ketat turnamen yang mewajibkan pakaian serba putih.
Osaka, yang telah memenangi empat gelar Grand Slam, dikenal kerap tampil dengan busana mencolok di turnamen-tenis besar. Pada Perancis Terbuka lalu, ia memukau dengan gaun emas berkilau yang disebutnya mirip Menara Eiffel di malam hari. Di Australia Terbuka Januari lalu, ia tampil dengan gaun terinspirasi ubur-ubur. Namun, untuk Wimbledon, ia harus berinovasi agar tetap menonjol tanpa melanggar aturan all-white.
“Saat memikirkan Wimbledon, yang terbayang adalah serba putih dan tradisinya,” ujar Osaka usai pertandingan. “Dalam benak saya, itu mengingatkan pada budaya dan warisan saya, Jepang dan Haiti. Jika saya menggali lebih dalam budaya Jepang, siluet paling ikonik bagi saya adalah kimono. Anda tidak perlu melihat warnanya untuk tahu itu kimono.”
Osaka mengaku terinspirasi film favoritnya, Kill Bill, terutama karakter yang diperankan Lucy Liu yang mengenakan kimono putih. “Saya ingat berpikir itu sangat keren. Lalu dari situlah ide ini muncul. Ini interpretasi saya terhadap film itu, sambil memberikan rasa hormat dan cinta yang besar kepada Jepang,” katanya.
Karena bertanding di lapangan luar, Osaka harus dikawal melewati kerumunan penonton. Banyak penggemar yang terkejut dan berhenti untuk mengagumi kimono yang ia kenakan. “Saya merasa itu sangat menyenangkan karena saya tidak mengira ada yang menduga,” kata Osaka. “Saya bisa merasakan ketika berjalan melewati seseorang, mereka memutar seluruh tubuh mereka. Saya dengar beberapa orang berkata, 'Wah, kimono yang sangat indah'. Itu menyenangkan.”
Osaka mengaku lebih suka “mengguncang suasana” dan belum memutuskan apakah akan mengenakan kimono lagi di pertandingan berikutnya melawan Anastasia Gasanova dari Rusia. Namun, ia sadar bahwa busana spektakuler kerap membawa tekanan tambahan. “Saya tidak akan mengatakan bahwa mengenakan pakaian ini menenangkan saraf saya, karena sebagian pikiran saya ingin tampil baik agar bisa terus memakainya,” ujarnya. “Untuk Perancis Terbuka, Anda tidak ingin memakai gaun pesta lalu kalah di babak pertama. Itu sempat terlintas di pikiran saya.”
Bagi penggemar tenis di Indonesia, penampilan Osaka menjadi pengingat bahwa olahraga bisa menjadi medium ekspresi budaya dan identitas. Di tengah dominasi tenis Eropa dan Amerika, Osaka berhasil membawa nuansa Asia yang kental ke panggung paling tradisional sekalipun. Langkahnya menginspirasi banyak atlet muda untuk tidak takut menonjolkan jati diri, selama tetap menghormati aturan.
Pertanyaan besarnya, akankah kimono putih itu membawa keberuntungan bagi Osaka untuk melaju lebih jauh dari babak ketiga Wimbledon? Atau justru tekanan untuk tampil beda akan menjadi bumerang? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: Osaka telah sekali lagi membuktikan bahwa tenis bukan sekadar permainan, melainkan panggung seni dan budaya.



