Emma Thompson Akui Rasakan Keanehan Bicara Soal Harry Potter
Baca dalam 60 detik
- Aktris Emma Thompson mengaku canggung membahas perannya sebagai Profesor Trelawney karena hanya tampil singkat di seri Harry Potter.
- Ia menekankan pentingnya dedikasi dalam setiap peran, terutama untuk film anak-anak yang dianggapnya sebagai penonton sakral.
- Kate Winslet memuji kebijaksanaan Thompson yang memberinya nasihat berharga tentang keseimbangan karier setelah kesuksesan Titanic.

Emma Thompson, aktris senior berusia 67 tahun, mengaku merasa janggal setiap kali harus membicarakan perannya di film Harry Potter. Meski memerankan Professor Sybill Trelawney dalam tiga seri film sihir legendaris itu, ia menganggap dirinya hanya bagian pinggiran dari fenomena global tersebut.
Dalam wawancara di podcast Smartless bersama Jason Bateman, Will Arnett, dan Sean Hayes, Thompson mengungkapkan bahwa total waktu syutingnya untuk Harry Potter hanya sekitar 30 hari sepanjang kariernya. "Agak aneh membahasnya karena ini sudah menjadi fenomena besar, dan orang-orang sangat tertarik pada itu," ujarnya. Penampilan perdananya sebagai Trelawney terjadi di film ketiga, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004).
Di luar Harry Potter, Thompson telah memerankan beragam karakter dalam karier panjangnya. Ia selalu mendekati setiap peran dengan antusiasme yang sama. "Kamu hanya harus menceburkan diri ke dalamnya, dan berharap instingmu benar," katanya. Namun, ia mengaku paling menikmati bermain dalam film yang ditujukan untuk anak-anak. "Anak-anak adalah penonton sakral. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan karya terbaik kita karena itu adalah pertama kalinya mereka melihat sesuatu. Itu harus sangat, sangat bagus," tegasnya.
Sementara itu, Kate Winslet, lawan main Thompson di film Sense and Sensibility (1995), memberikan pujian tinggi. Dalam acara di 92NY Center for Culture and Arts, Winslet menyebut Thompson memiliki "ketenangan dan kejelasan persepsi tentang industri ini secara keseluruhan." Winslet juga mengingat bagaimana Thompson melindunginya setelah kesuksesan Titanic. "Dia sedikit khawatirโbukan soal saya akan keluar jalur, karena itu jelas bukan kepribadian sayaโtapi bahwa itu bisa sangat membebani dan apa yang akan saya lakukan?" kenang Winslet.
Thompson pernah menasihati Winslet: "Ingatlah, sama pentingnya untuk tidak bekerja seperti halnya bekerja. Dan saya tidak pernah melupakan itu." Nasihat tersebut membuat Winslet sadar bahwa ia tidak ingin kariernya habis begitu saja. "Saya pikir, Tuhan, jika saya melakukannya, mungkin orang akan bosan dengan saya dan berkata, 'Jangan dia lagi, mari beralih ke orang lain,'" ujar Winslet.
Bagi pembaca Indonesia, fenomena ini mengingatkan pada bagaimana aktor lokal sering kali terikat pada satu peran ikonik, seperti di sinetron atau film laris. Nasihat Thompson tentang keseimbangan antara bekerja dan tidak bekerja relevan di tengah industri hiburan Tanah Air yang kerap menuntut produktivitas tanpa henti. Ke depan, mampukah para aktor Indonesia menjaga karier jangka panjang tanpa terjebak dalam satu peran?



