Ben Stokes Pensiun: Sang Pencipta Momen Meninggalkan Warisan Ganda untuk Inggris
Baca dalam 60 detik
- Ben Stokes mengakhiri karier internasionalnya setelah 15 tahun, meninggalkan rekor 7.273 run dan 252 wicket dalam Test.
- Ia dikenang sebagai pemain momen, dengan dua gelar Piala Dunia (50-over 2019 dan T20 2022) serta kepemimpinan inovatif dalam era Bazball.
- Kepergiannya meninggalkan celah besar di tim Inggris, terutama dalam hal kepemimpinan dan keseimbangan skuad, dengan Harry Brook sebagai kandidat kapten.

Ben Stokes, kapten serba bisa Inggris yang dikenal sebagai pencipta momen-momen tak terlupakan dalam kriket, secara mengejutkan mengumumkan pensiun dari kriket internasional di tengah pertandingan Test melawan Selandia Baru di Trent Bridge. Keputusan ini mengakhiri karier 15 tahun yang dipenuhi rekor dan momen ikonik, meninggalkan warisan ganda sebagai pemain super dan kapten visioner.
Stokes menutup karier Test dengan 7.273 run dan 252 wicket, angka yang menempatkannya sejajar dengan legenda seperti Sir Garfield Sobers dan Jacques Kallis. Namun, lebih dari sekadar statistik, ia adalah pemain yang mendefinisikan ulang harapan. Dari serangan dahsyat di Perth 2013, inning legendaris di Headingley 2019, hingga kemenangan Piala Dunia 50-over 2019 dan T20 2022, Stokes selalu menjadi pusat momen-momen besar. "Saya sudah selesai," tegasnya saat ditanya kemungkinan kembali untuk Ashes 2025-2026, menutup pintu bagi skenario comeback yang sempat diimpikan banyak pihak.
Keputusan pensiun ini bukanlah sesuatu yang mendadak. Menurut laporan, Stokes sudah mempertimbangkan langkah ini sejak Test pertama melawan Selandia Baru di Lord's. Insiden di klub malam Rex Rooms yang memicu kontroversi hanyalah pemicu akhir dari proses yang sudah berlangsung lama. Pelatih Brendon McCullum dan direktur kriket Rob Key mengaku sudah mengetahui kedekatan Stokes dengan pensiun, dan McCullum bahkan menyatakan kekhawatirannya terhadap kondisi mental sang pemain. Di sisi lain, klubnya Durham tidak melihat tanda-tanda masalah karena Stokes tampak bahagia di sana.
Warisan Stokes tidak hanya terletak pada prestasi individunya, tetapi juga pada kepemimpinannya. Ketika ia mengambil alih kapten pada 2022, tim Inggris sedang terpuruk dengan hanya satu kemenangan dalam 17 Test dan kelelahan akibat pandemi. Bersama McCullum, ia melahirkan era "Bazball" yang mengubah cara bermain Test cricket menjadi agresif dan menghibur. Meskipun gaya ini menuai hasil sensasional di awal, kegagalan merebut kembali The Ashes pada 2023 dan kekalahan di Australia pada musim dingin lalu menjadi noda yang mempercepat kepergiannya.
Bagi Indonesia, meskipun kriket bukan olahraga utama, pensiunnya Stokes mengingatkan pada pentingnya regenerasi pemain bintang di setiap cabang olahraga. Di kancah internasional, kehilangan figur seperti Stokes seringkali memicu periode transisi yang sulit. Inggris kini harus mencari kapten baruโHarry Brook disebut sebagai favoritโdan menata ulang komposisi tim yang kehilangan banyak pemain senior seperti James Anderson, Stuart Broad, dan Moeen Ali dalam tiga tahun terakhir. Joe Root menjadi satu-satunya pemain aktif yang pernah merasakan kemenangan Ashes.
"Saya akan berada di suatu tempat di kotak hospitality," ujar Stokes tentang rencananya menonton Ashes mendatang. Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa era baru Inggris tanpa Stokes telah dimulai. Pertanyaan besar kini: siapa yang akan menciptakan momen-momen ajaib bagi Inggris di masa depan?



