Airlangga: Gejolak Global Jadi Peluang Ekspansi, Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat
Baca dalam 60 detik
- Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong pelaku usaha memanfaatkan harga barang modal yang kompetitif di tengah ketidakpastian global untuk memperluas investasi.
- Fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I 2026, inflasi terkendali, dan cadangan devisa mencapai 144,9 miliar dolar AS.
- Pemerintah menyiapkan stimulus Rp26,34 triliun dan program magang nasional untuk menjaga momentum pertumbuhan di semester II 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai ketidakpastian ekonomi global justru membuka celah bagi pelaku usaha domestik untuk melakukan ekspansi, seiring harga barang modal yang menjadi lebih murah dan kompetitif. Dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (29/6/2026), ia mengajak investor dan perusahaan untuk tidak menyia-nyiakan momen ini, karena kesempatan serupa tidak akan datang dua kali.
Menurut Airlangga, gejolak ekonomi dunia yang masih berlangsung telah menekan harga capital goods, sehingga perusahaan dapat memperoleh aset produktif dengan biaya lebih rendah. Ia menegaskan bahwa langkah ekspansi tersebut didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang tetap berada di jalur positif. Data terbaru menunjukkan produk domestik bruto tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan pertama 2026, sementara inflasi Mei tercatat sekitar 3 persen. Indeks keyakinan konsumen berada di atas 120, neraca perdagangan April mencatat surplus 0,09 miliar dolar AS, dan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur S&P berada di level 50. Cadangan devisa pun mencapai 144,9 miliar dolar AS, memberikan bantalan yang cukup terhadap gejolak eksternal.
Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan di paruh kedua tahun ini, pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun. Paket tersebut mencakup bantuan pangan bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat selama tiga bulan, bantuan SPHP kedelai untuk pelaku usaha tahu dan tempe, serta diskon transportasi udara, kereta api, dan angkutan laut kelas ekonomi. Insentif ini diharapkan dapat mendorong konsumsi masyarakat selama libur sekolah hingga periode Natal dan Tahun Baru.
Di sisi ketenagakerjaan, pemerintah akan meluncurkan program magang nasional mulai Juli 2026 yang menyasar lulusan baru selama enam bulan di sektor industri, jasa, dan ekonomi digital, dengan dukungan insentif dari pemerintah. Selain itu, program vokasi dan reskilling bagi sekitar 220 ribu lulusan SMK juga disiapkan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja dan memperluas akses ke pasar kerja, termasuk di tingkat internasional. Langkah ini dinilai penting untuk menyerap bonus demografi dan mengurangi kesenjangan keterampilan.
Dalam jangka panjang, pemerintah tengah menggodok pembentukan pusat keuangan (financial center) di Bali melalui kerangka regulasi khusus yang saat ini dibahas bersama parlemen. Proyek ini diharapkan dapat menarik investasi asing dan memperkuat sektor jasa keuangan nasional. Di sisi lain, pengembangan ekonomi hijau terus didorong melalui proyek energi bersih yang didukung skema Just Energy Transition Partnership (JETP), termasuk pembangkit panas bumi (geothermal) dan proyek waste-to-energy. Bagi pelaku usaha Indonesia, kombinasi stimulus jangka pendek dan reformasi struktural ini menawarkan peluang sekaligus tantangan untuk beradaptasi dengan tren global.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana sektor swasta akan merespons ajakan pemerintah di tengah ketidakpastian yang masih membayangi ekonomi dunia. Apakah harga capital goods yang kompetitif cukup menjadi daya tarik untuk menggenjot investasi riil, atau justru kekhawatiran terhadap permintaan global akan menghambat langkah ekspansi? Jawabannya akan menentukan apakah Indonesia mampu mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir tahun.



