Rahasia Adu Penalti Piala Dunia: Argentina Jawara, Pemain Kedelapan Paling Rawan Gagal
Baca dalam 60 detik
- Argentina memegang rekor sebagai tim paling sukses dalam adu penalti Piala Dunia dengan enam kemenangan dari tujuh partisipasi.
- Penendang nomor delapan dalam urutan adu penalti memiliki tingkat kegagalan tertinggi, hanya 59,4% berhasil menjebol gawang.
- Penjaga gawang asal Kroasia mendominasi statistik penyelamatan penalti, dengan dua kipernya mencatat empat penyelamatan masing-masing.

Piala Dunia 2026 akan memperkenalkan babak 32 besar, yang berarti jumlah adu penalti berpotensi melampaui rekor lima kali yang terjadi di Qatar 2022. Data dari 35 adu penalti sepanjang sejarah turnamen—melibatkan 320 tendangan—menunjukkan pola menarik: Argentina adalah penguasa adu penalti, sementara posisi penendang kedelapan menjadi titik terlemah.
Argentina memenangi enam dari tujuh adu penalti yang mereka jalani, termasuk final 2022 melawan Prancis. Lionel Messi, yang mengeksekusi dua penalti dalam adu penalti di turnamen tersebut, menjadi salah satu dari hanya dua pemain yang selalu mencetak gol dalam tiga adu penalti Piala Dunia berbeda—bersama Luka Modric. Keduanya memiliki tingkat keberhasilan 100%.
Di sisi lain, Spanyol kini memegang rekor paling banyak gagal penalti dalam adu penalti Piala Dunia: sembilan kali, setelah tiga tendangan mereka dimentahkan Maroko pada babak 16 besar 2022. Inggris, yang sebelumnya memegang rekor dengan delapan kegagalan, kini turun ke posisi kedua. Jerman dan Kroasia sama-sama memenangi empat dari empat adu penalti, sementara Belgia, Korea Selatan, dan Paraguay selalu mencetak semua tendangan mereka (masing-masing lima dari lima).
Menariknya, tidak ada keuntungan signifikan bagi tim yang menendang lebih dulu atau kedua: dari 35 adu penalti, tim pertama menang 17 kali, tim kedua 18 kali. Namun, urutan penendang sangat memengaruhi peluang sukses. Penendang pertama memiliki tingkat keberhasilan tertinggi (72,9%), diikuti penendang kedua dan ketiga (masing-masing 71,5%). Penendang keempat turun drastis ke 64,2%, lalu naik sedikit ke 66,7% untuk penendang kelima. Titik terendah adalah penendang kedelapan—posisi kedua di ronde keempat—yang hanya mencetak 59,4% gol. Pola serupa juga terlihat di Kejuaraan Eropa, menunjukkan tekanan psikologis yang unik pada posisi tersebut.
Dari sisi posisi pemain, penyerang menjadi yang paling andal dengan tingkat keberhasilan 75% (dari 100 tendangan), disusul gelandang 67,9% (140 tendangan), dan bek 65% (80 tendangan). Tidak ada kiper yang pernah menjadi penendang dalam adu penalti Piala Dunia, meskipun beberapa kiper seperti Tim Krul (Belanda) pernah dimasukkan khusus untuk menghadapi adu penalti—dan berhasil menyelamatkan dua tendangan kala melawan Kosta Rika pada 2014.
Bagi Indonesia, yang tengah giat mengembangkan sepak bola nasional, data ini memberikan pelajaran berharga. Pelatih timnas dapat memanfaatkan statistik urutan penendang dan preferensi arah tendangan untuk menyusun strategi adu penalti yang lebih ilmiah. Selain itu, keberhasilan Kroasia yang hanya berpenduduk 4 juta jiwa dalam melahirkan kiper-kiper handal bisa menjadi inspirasi bagi program pembinaan kiper di Indonesia.
Dengan bertambahnya jumlah pertandingan di Piala Dunia 2026, adu penalti diprediksi semakin sering terjadi. Pertanyaannya: akankah tim-tim mulai mempersiapkan diri secara lebih sistematis—seperti yang dilakukan Belanda dengan memasukkan kiper spesialis—atau tetap mengandalkan insting di momen krusial?



