Pahlawan Sejurus, Balogun Akhirnya Harus Menonton dari Tribun
Baca dalam 60 detik
- Folarin Balogun mencetak gol pembuka dan melakukan selebrasi ala LeBron James, namun kartu merah di babak kedua membuatnya harus absen di laga krusial melawan Belgia.
- AS tetap menang 2-0 atas Bosnia berkat ketangguhan kolektif dan gol Malik Tillman, menghindari pengulangan kegagalan seperti di Copa America 2024.
- Tanpa Balogun, AS dihadapkan pada ujian berat di babak 16 besar; performa tim saat unggul jumlah pemain menjadi sorotan utama.

Folarin Balogun mencatatkan malam yang kontradiktif dalam kemenangan Amerika Serikat atas Bosnia 2-0 di babak 32 besar Piala Dunia. Striker yang baru saja mencetak gol ketiganya di turnamen dan mendapat pujian dari legenda NBA LeBron James itu harus meninggalkan lapangan lebih cepat setelah kartu merah yang diterimanya di babak kedua, membuatnya absen pada laga hidup-mati melawan Belgia.
Gol Balogun pada menit ke-26 memberi AS keunggulan di Stadion Santa Clara. Selebrasi khas Jamesโmenekuk lutut, menepuk dada, dan mendorong kedua lengan ke bawahโmemicu kegemparan di tribun. Sang megabintang NBA pun bereaksi di media sosial dengan pujian singkat: "Gol yang luar biasa, Raja Muda!" Namun, euforia itu sirna saat wasit meninjau tayangan ulang VAR dan memutuskan bahwa injakan kaki Balogun ke pergelangan kaki bek Bosnia, Tarik Muharemovic, layak diganjar kartu merah langsung.
Keputusan itu memicu kekhawatiran di kubu AS. Kenangan pahit tersingkirnya AS di Copa America 2024 setelah Tim Weah mendapat kartu merah melawan Panama masih segar. Saat itu, tim gagal beradaptasi dan tersingkir di fase grup. Namun, kali ini skuad asuhan Mauricio Pochettino menunjukkan kedewasaan berbeda. Mereka tetap rapat dalam bertahan dan disiplin tanpa kehilangan ancaman di depan. Malik Tillman menggandakan keunggulan lewat tendangan bebas, memastikan kemenangan meski bermain dengan sepuluh pemain.
Kapten Christian Pulisic mengakui bahwa tim harus bekerja ekstra keras. "Kami tampil baik dan tidak pantas menerima kartu merah. Tapi kami bertahan, mencetak gol lagi, dan itu butuh usaha tim yang sesungguhnya. Kami bangga," ujarnya. Pernyataan itu menegaskan mentalitas baru yang coba dibangun Pochettino: ketangguhan kolektif di atas ketergantungan pada individu.
Bagi Indonesia, kisah Balogun menjadi pengingat akan pentingnya kedalaman skuad dan pengelolaan emosi di turnamen besar. Timnas Indonesia, yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2030, dapat belajar dari bagaimana AS mampu bangkit setelah kehilangan pemain kunci. Regulasi VAR yang ketat juga menyoroti perlunya disiplin tinggi, terutama di area berbahaya seperti tekel dari belakang.
Pertandingan melawan Belgia pada Senin mendatang akan menjadi ujian sesungguhnya. Tanpa Balogun, AS harus membuktikan bahwa kemenangan atas Bosnia bukan sekadar keberuntungan. Bisakah mereka mempertahankan performa tanpa sang pencetak gol utama? Atau justru kartu merah ini akan menjadi titik balik yang memperkuat solidaritas tim? Jawabannya akan terungkap di Seattle.



