Becky G: Persaingan Terbesar Berada di Cermin, Bukan di Antara Sesama Perempuan
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Shower' menegaskan bahwa rival utamanya adalah dirinya sendiri, bukan penyanyi perempuan lain seperti Karol G.
- Ia mengkritik industri musik yang kerap mengadu domba artis perempuan, dan memilih membangun persahabatan serta kolaborasi.
- Pernyataan ini muncul di tengah tren solidaritas musisi Latin yang memperkuat pengaruh mereka di pasar global, termasuk Indonesia.

Penyanyi pop asal Amerika Serikat, Becky G, menegaskan bahwa persaingan terbesar dalam kariernya bukanlah artis perempuan lain, melainkan bayangan dirinya sendiri. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan CBS Mornings, di tengah sorotan publik terhadap dinamika persaingan di industri musik yang kerap mempertentangkan musisi perempuan satu sama lain.
Pelantun tembang "Shower" itu secara gamblang membantah anggapan bahwa ia bersaing dengan rekan dekatnya, Karol G. Menurut Becky, industri hiburan terlalu cepat memposisikan para perempuan sebagai rival, padahal di balik layar, banyak dari mereka justru saling mendukung. "Kami memiliki persahabatan yang indah, sesuatu yang saya syukuri dan peroleh melalui pengalaman bersama maupun individu," ujarnya, merujuk pada hubungannya dengan Karol G.
Baginya, kesuksesan tidak diukur dari menjatuhkan orang lain, melainkan dari kemampuan menjadi versi terbaik dari diri sendiri. "Kompetisi terbesar saya adalah orang yang saya lihat di cermin setiap pagi. Saya yakin Karol juga merasakan hal yang sama," tegas Becky. Ia mengagumi cara Karol G yang tidak hanya menerobos pintu-pintu industri, tetapi juga membukanya lebar bagi musisi lain untuk menyusul.
Pernyataan Becky G ini sejalan dengan tren yang berkembang di industri musik global, di mana para artis perempuan semakin vokal menolak budaya kompetisi yang tidak sehat. Ia bahkan menegaskan bahwa para musisi perempuan kini mampu "membangun meja sendiri" daripada berebut kursi di meja yang sudah ada. Pandangan ini mencerminkan pergeseran paradigma dari kompetisi menuju kolaborasi, yang juga terlihat di industri musik Indonesia.
Di Indonesia, fenomena serupa mulai mengemuka. Banyak musisi perempuan tanah air yang justru saling menguatkan melalui kolaborasi lintas genre, seperti kolaborasi antara penyanyi pop dan musisi indie. Hal ini menunjukkan bahwa semangat solidaritas yang diusung Becky G tidak hanya relevan di pasar Amerika Latin, tetapi juga bergema di kancah musik Asia Tenggara.
Sementara itu, dukungan juga datang dari rekan sesama musisi, Anitta. Pelantun "Envolver" itu memuji kemampuan Becky G dalam mewakili identitas ganda Latin-Amerika. "Saya suka bahwa dia mewakili semua orang Latin yang tinggal di Amerika, karena kamu merasa menjadi bagian dari dua dunia," kata Anitta kepada Teen Vogue. Pengakuan ini menegaskan peran Becky G sebagai jembatan budaya, sesuatu yang juga dicari oleh banyak diaspora di Indonesia.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi siapa yang lebih unggul di antara para diva, melainkan bagaimana industri musik dapat terus menciptakan ruang yang setara bagi semua. Apakah tren kolaborasi ini akan menjadi norma baru, atau hanya sekadar wacana? Yang jelas, Becky G telah memberikan contoh bahwa kekuatan sejati lahir dari dukungan, bukan persaingan.



