Dana Asing Deras Masuk ke SBN dan SRBI Tembus US$ 9 Miliar di Akhir Juni
Baca dalam 60 detik
- Investor asing membanjiri pasar obligasi dan instrumen moneter Indonesia dengan total aliran masuk mencapai US$ 9 miliar hingga 26 Juni 2026.
- Ekspansi likuiditas Bank Indonesia melonjak drastis dari Rp 600 triliun di akhir Mei menjadi Rp 1.000 triliun, menandai respons agresif terhadap permintaan pasar.
- Kenaikan suku bunga acuan ke 5,75% dan operasi likuiditas masif menjadi kunci menjaga stabilitas nilai tukar dan daya tarik investasi portofolio.

Bank Indonesia (BI) mencatat lonjakan signifikan aliran modal asing ke pasar keuangan domestik hingga akhir Juni 2026. Wakil Deputi Gubernur BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa total dana masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah mencapai US$ 9 miliar secara year-to-date per 26 Juni lalu. Angka ini menjadi indikator kuat meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Pernyataan tersebut disampaikan Destry setelah mengikuti rapat koordinasi antara pimpinan DPR, pemerintah, dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa arus masuk dana asing tidak hanya terjadi pada SBN konvensional, tetapi juga merambah ke SRBI, instrumen baru yang diterbitkan BI untuk memperkuat pengelolaan likuiditas dan stabilitas nilai tukar. "Portofolio SBN dan SRBI kita sudah mencapai US$ 9 miliar," ujarnya, sembari menyebut optimisme bahwa aliran dana akan terus berlanjut.
Untuk mengakomodasi derasnya permintaan asing dan menjaga stabilitas pasar, BI telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75%. Langkah ini diikuti dengan ekspansi likuiditas besar-besaran melalui operasi pasar terbuka. Destry merinci bahwa pada akhir Mei 2026, ekspansi likuiditas BI baru mencapai Rp 600 triliun. Namun, dalam waktu kurang dari sebulan, angka tersebut melonjak menjadi Rp 1.000 triliun pada akhir Juni. "Ini menunjukkan komitmen kami untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang," tambahnya.
Bagi investor Indonesia, lonjakan dana asing ini memberikan sinyal positif terhadap stabilitas makroekonomi. Namun, di sisi lain, ketergantungan pada modal asing juga membawa risiko jika terjadi pembalikan arus secara tiba-tiba. BI tampaknya telah mengantisipasi hal tersebut dengan memperkuat bantalan likuiditas dan instrumen moneter. Langkah menaikkan suku bunga acuan juga menjadi alat untuk menjaga daya tarim imbal hasil sekaligus mengendalikan tekanan inflasi.
Ke depan, pergerakan dana asing akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral global, terutama suku bunga The Fed. Jika Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga, tekanan pada rupiah dan pasar obligasi bisa meningkat. Namun, dengan likuiditas yang melimpah dan suku bunga kompetitif, Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk menarik minat investor. Pertanyaan yang kini mengemuka: seberapa lama momentum ini dapat bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia?



