IHSG Terperosok ke 5.838, Sesi I Ambles Hampir 1%: Siapa Pemberat Utama?
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup turun 0,97% ke 5.838,95 pada akhir sesi I, setelah sempat melesat 0,79% di awal perdagangan.
- Tekanan jual terfokus pada saham perbankan besar, dengan BBCA menjadi pemberat utama yang menyumbang -14,05 poin.
- Pemerintah dan DPR sepakat mengembalikan dana Rp281 triliun ke Himbara serta menyiagakan Rp100 triliun untuk menjaga stabilitas perbankan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan momentum penguatan awal dan justru terperosok ke zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan, Senin (29/6/2026). Indeks acuan ditutup merosot 57,18 poin atau 0,97% ke level 5.838,95, setelah sempat menyentuh posisi tertinggi harian di 5.942,77 pada pembukaan.
Sepanjang sesi pagi, tekanan jual mendominasi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar. Data Bursa Efek Indonesia mencatat sebanyak 399 saham tertekan, sementara 257 saham berhasil naik dan 303 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp4,02 triliun dengan volume 6,48 miliar saham dalam 672.500 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkikis menjadi Rp10.218 triliun.
Tekanan terbesar datang dari sektor perbankan. BBCA, yang mencatat nilai transaksi tertinggi, ambles 2,43% dan menjadi pemberat utama IHSG dengan kontribusi minus 14,05 poin โ jauh di atas pemberat kedua, Sinar Mas Multiartha (SMMA) yang membebani 6,41 poin. Saham perbankan lain seperti BMRI dan BBRI masing-masing terkoreksi 1% dan 1,05%. Emiten lain yang ikut menekan indeks antara lain TLKM, BREN, dan BRPT.
Di tengah pelemahan pasar, pemerintah dan DPR menggelar pertemuan pagi tadi di Gedung DPR RI. Hadir antara lain Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, Mensesneg Prasetyo Hadi, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta, serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu. Mereka menyepakati fokus kebijakan jangka pendek untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.
Mari Elka menekankan bahwa ketidakpastian harga komoditas akibat konflik Timur Tengah telah memberikan sinyal kenaikan harga barang. "Karena kita sudah lihat dari ketidakpastian global seperti harga minyak yang pengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat," ujarnya. Sebagai langkah konkret, pemerintah memutuskan mengembalikan dana Rp281 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan memperpanjang penempatannya hingga akhir 2026. Selain itu, dana Rp100 triliun disiagakan untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas perbankan yang mendesak.
Keputusan ini diharapkan mampu menstabilkan sektor keuangan dan meredam gejolak pasar. Namun, efektivitas kebijakan tersebut masih perlu diuji di tengah sentimen global yang belum membaik. Pertanyaan besarnya, akankah langkah ini cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor dan mengangkat IHSG dari keterpurukan?



