Comeback Spektakuler Haeran Ryu: Gelar Major Pertama di Women's PGA Championship
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Korea Selatan Haeran Ryu sukses membalikkan keadaan setelah start buruk di ronde pertama untuk merebut gelar major pertamanya.
- Kemenangan ini sekaligus mengukuhkan dominasi Asia di panggung golf putri dunia, dengan dua pegolf Korea di posisi teratas.
- Hadiah turnamen sebesar $13 juta menjadi rekor baru dalam sejarah golf putri, menandai peningkatan signifikan dalam kesetaraan prize money.

Haeran Ryu, pegolf Korea Selatan berusia 25 tahun, akhirnya mencatatkan namanya di buku sejarah setelah memenangkan Women's PGA Championship dengan keunggulan dua pukulan. Kemenangan ini menjadi gelar major pertamanya setelah tiga kali juara di LPGA Tour, sekaligus mengukuhkan dominasi Asia di panggung golf putri dunia.
Ryu memulai final round dengan keunggulan satu pukulan, namun langsung tertekan setelah tiga bogey dalam lima hole pertama. Namun, ia bangkit dengan lima birdie untuk menuntaskan ronde dua-under-par 70, finis dengan total 13-under 275. Cek senilai $1,95 juta (ยฃ1,48 juta) menjadi hadiah manis atas perjuangannya. "Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Saya sudah beberapa kali mencoba menjadi juara major, tapi belum berhasil. Hari ini saya berhasil," ujar Ryu penuh haru.
Turnamen dengan total hadiah $13 juta (ยฃ9,8 juta) ini mencatat rekor baru sebagai purse terbesar dalam sejarah golf putri. Angka ini mencerminkan peningkatan signifikan dalam investasi terhadap olahraga golf wanita, sejalan dengan tuntutan kesetaraan prize money yang terus digaungkan para pegolf top dunia.
Kemenangan Ryu semakin istimewa mengingat start buruknya di ronde pertama. Ia berada di posisi T70 dengan defisit 10 pukulan dari pemimpin. Namun, performa gemilang di tiga ronde berikutnya membawanya ke puncak. "Ini comeback yang luar biasa. Dia menunjukkan mentalitas juara sejati," komentar analis golf ESPN.
Persaingan di puncak klasemen sempat memanas setelah cuaca buruk menunda start final round selama tiga setengah jam. Brooke Henderson dan Dewi Weber sempat memimpin, namun keduanya harus puas berbagi posisi ketiga. Bagi Weber, ini adalah finis terbaiknya di turnamen major. Sementara itu, Nelly Korda yang berambisi meraih kemenangan major ketiga beruntun, gagal menemukan ritme dan hanya finis di posisi T8.
Bagi pegolf Indonesia, pencapaian Ryu menjadi inspirasi bahwa keterpurukan di awal bukanlah akhir. Dengan semakin besarnya hadiah turnamen, diharapkan semakin banyak atlet muda Tanah Air yang termotivasi menekuni golf profesional. Pertanyaannya, mampukah Indonesia melahirkan pegolf putri yang mampu bersaing di level major seperti Ryu?



