Pecahkan Rekor 55 Tahun, Pemain Go 20 Tahun Jadi Juara Termuda Honinbo
Baca dalam 60 detik
- Kotaro Fukuoka, 20 tahun, menaklukkan juara bertahan Ryo Ichiriki 3-2 di final Honinbo ke-81, memecahkan rekor Yoshio Ishida yang bertahan lebih dari setengah abad.
- Fukuoka, yang pernah mencatat 114 kemenangan beruntun sebagai magang profesional, menandai era baru persaingan empat kekuatan utama di Go Jepang.
- Keberhasilannya mengindikasikan pergeseran generasi di papan Go profesional, dengan potensi dominasi jangka panjang yang akan diuji dalam turnamen-turnamen mendatang.

Pemain Go profesional asal Jepang, Kotaro Fukuoka, mencatat sejarah baru setelah merebut gelar Honinbo pada usia 20 tahun 6 bulan, mengalahkan rekor 55 tahun milik Yoshio Ishida. Dalam pertandingan penentuan yang digelar di Tokiwa Hotel, Kofu, Fukuoka mengandaskan juara bertahan Ryo Ichiriki dalam 200 langkah, memenangi seri best-of-five dengan skor 3-2.
Gelar Honinbo merupakan yang tertua di antara tujuh turnamen utama Go Jepang, dan Fukuoka menjadi pemain termuda yang pernah menyandangnya. Rekor sebelumnya dipegang Ishida yang saat itu berusia 22 tahun 10 bulan pada 1971. Kemenangan ini tidak hanya mengukuhkan Fukuoka sebagai bintang baru, tetapi juga menandai babak baru dalam persaingan papan atas Go Jepang yang selama ini didominasi oleh nama-nama seperti Yuta Iyama dan Ryo Ichiriki.
Fukuoka, yang meraih peringkat 7-dan, memulai karier profesional pada 2019 di usia 13 tahun. Sebagai magang profesional, ia mencatat 114 kemenangan beruntun yang mencengangkan sebelum resmi menjadi pemain profesional. Prestasi itu membuatnya dijuluki "ace generasi berikutnya". Terobosan besarnya terjadi pada 2024 ketika ia mengalahkan Yuta Iyama—pemegang gelar Gosei yang dua kali memegang seluruh tujuh gelar utama secara bersamaan—di final Ryusei, sekaligus merebut gelar pertamanya dan tiket ke liga Meijin.
Di final Honinbo, Fukuoka menghadapi Ichiriki yang telah tiga kali berturut-turut memegang gelar tersebut. Keduanya pernah berlatih bersama dalam satu kelompok studi. Sebelum seri dimulai, Fukuoka mengakui adanya kesenjangan kekuatan, namun bertekad untuk menutupnya. Kenyataannya, ia tampil sangat kompetitif. Puncaknya terjadi pada game keempat saat ia tertinggal 1-2. Fukuoka melancarkan langkah brilian di pertengahan permainan yang membuat ekspresi Ichiriki mengeras. Setelah keseimbangan berubah drastis, Fukuoka tidak pernah kehilangan kendali dan menutup permainan dengan tenang. Komentator Rin Kono, pemain 9-dan, memuji kemampuannya beradaptasi dengan berbagai gaya permainan, menyebutnya seperti yokozuna (juara sumo) dan tidak terlihat seperti pemain berusia 20 tahun.
Ishida, yang rekor usianya dipecahkan, menyambut dengan humor. "Saya senang rekor ini dipecahkan selagi saya masih hidup," ujarnya. Ia menambahkan bahwa era persaingan ketat telah tiba dengan empat kandidat utama—Fukuoka, Ichiriki, Toramaru Shibano, dan Iyama—yang saling berebut gelar. Menurut Ishida, nilai sesungguhnya dari Fukuoka akan benar-benar diuji ke depannya.
Bagi Indonesia, prestasi Fukuoka bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan olahraga otak di tanah air. Go, meskipun belum sepopuler catur, memiliki basis penggemar yang terus tumbuh, terutama di kalangan komunitas daring. Keberhasilan pemain semuda Fukuoka menunjukkan bahwa bakat muda dapat bersaing di level tertinggi dengan dedikasi dan latihan intensif. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Fukuoka mampu mempertahankan dominasinya di tengah persaingan yang semakin ketat, atau justru akan muncul kejutan lain dari generasi berikutnya?



