Dolar AS Menguat Tajam di Juni, Sentuh Level Terkuat dalam Setahun
Baca dalam 60 detik
- Indeks dolar AS mendekati level tertinggi 13 bulan, didorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan aliran modal ke pasar saham AS.
- Posisi bullish dolar oleh investor spekulatif mencapai rekor sejak 2019 senilai US$36,4 miliar, menandakan kepercayaan tinggi terhadap mata uang AS.
- Penguatan dolar berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan tekanan impor Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global.

Dolar Amerika Serikat mencatatkan penguatan bulanan terbesar dalam hampir setahun pada Juni 2026, didukung oleh meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve serta optimisme terhadap perekonomian AS. Indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama lainnya bertahan di level 101,34, mendekati puncak 13 bulan yang diraih pekan lalu.
Sepanjang bulan ini, dolar berhasil menguat terhadap seluruh mata uang utama, dengan tekanan paling dalam dialami oleh mata uang Skandinavia dan Antipodean yang kehilangan 4,7 hingga 7 persen nilainya. Euro sendiri terpuruk ke level terendah 13 bulan di US$1,1399, dan diperdagangkan dengan potensi penurunan bulanan sebesar 2,4 persen. Yen Jepang juga tak berdaya di kisaran 161,83 per dolar, level yang belum pernah terlihat dalam 40 tahun terakhir.
Katalis utama penguatan dolar berasal dari sikap hawkish Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, yang mengejutkan pasar pada debutnya. Tekanan inflasi yang terus meninggi, ditambah dengan booming pasar saham AS yang digerakkan oleh kecerdasan buatan, telah mengubah ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan pemotongan suku bunga. Saat ini, pedagang di pasar uang memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga tahun ini, dengan probabilitas 50 persen untuk kenaikan kedua.
Menurut Jane Foley, kepala strategi FX di Rabobank, penguatan dolar saat ini merupakan siklus kenaikan yang signifikan setelah sekian lama diskusi tentang pelemahan struktural dolar. Ia menilai alokasi aset global yang condong ke AS, terutama sejak perang dagang dan konflik geopolitik, menjadi faktor pendukung. "Sejak April tahun lalu, banyak dibicarakan tentang penurunan struktural dolar. Namun, bahkan jika Anda sangat percaya pada narasi itu, harus diakui ada ruang untuk tren siklus naik," ujarnya.
Data mingguan dari regulator pasar AS menunjukkan investor spekulatif memegang posisi bullish dolar terbesar sejak 2019, senilai US$36,4 miliar. Angka ini mengindikasikan keyakinan tinggi bahwa dolar akan terus menguat dalam jangka pendek. Laporan ketenagakerjaan AS bulanan yang akan dirilis akhir pekan ini menjadi ujian berikutnya bagi pasar, untuk mengukur akurasi ekspektasi kenaikan suku bunga.
Bagi Indonesia, penguatan dolar AS membawa implikasi serius. Rupiah berpotensi tertekan lebih lanjut, meningkatkan biaya impor dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Bank Indonesia kemungkinan akan menghadapi dilema antara menaikkan suku bunga untuk menstabilkan rupiah atau menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, investor asing mungkin akan terus mengalihkan portofolio ke aset dolar, mengurangi aliran modal ke pasar keuangan domestik.
Forum tahunan Bank Sentral Eropa (ECB) yang dimulai Senin ini akan menjadi panggung bagi pernyataan-pernyataan penting dari para pembuat kebijakan, termasuk Warsh. Pasar akan mencermati setiap isyarat mengenai arah suku bunga AS ke depan. Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pergerakan dolar diperkirakan akan tetap volatil dalam beberapa pekan mendatang.



