Korea Selatan Peringatkan Won Jauh dari Fundamental, Siap Intervensi Pasar
Baca dalam 60 detik
- Wakil Menteri Keuangan Korea Selatan Huh Chang menyatakan won saat ini tidak selaras dengan fundamental ekonomi, menandakan potensi intervensi.
- Kekhawatiran ini muncul di tengah pelemahan won ke level terendah 17 tahun, sementara Jepang juga mengintensifkan tekanan pada spekulan yen.
- Seoul memperluas jam perdagangan won-dolar menjadi 24 jam untuk menarik volume dari pasar NDF offshore ke pasar spot domestik.

Wakil Menteri Keuangan Korea Selatan yang membidangi urusan valuta asing, Huh Chang, pada Kamis (2/7) menyampaikan peringatan keras bahwa nilai tukar won saat ini telah melenceng jauh dari fundamental ekonomi. Pernyataan ini disampaikan di tengah tekanan berkelanjutan terhadap mata uang Asia yang terdepresiasi hingga mendekati titik terendah dalam 17 tahun terakhir.
Dalam konferensi pers di Seoul, Huh mengungkapkan bahwa pemerintahnya terus menjalin komunikasi erat dengan Jepang dan negara-negara sekutu lainnya terkait kebijakan nilai tukar. โKami selalu bekerja sama dengan Jepang dan negara terkait, bertukar informasi secara intensif,โ ujarnya. Meski enggan merinci potensi intervensi bersama, ia menegaskan kesiapan pemerintah untuk mengambil langkah stabilisasi jika terjadi lonjakan harga akibat likuiditas yang menipis.
Peringatan ini muncul hanya beberapa hari sebelum Korea Selatan secara resmi memperpanjang sesi perdagangan won-dolar menjadi 24 jam penuh, sebuah langkah bersejarah yang mulai berlaku Senin depan. Perubahan ini diharapkan dapat memindahkan volume perdagangan dari pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri ke pasar spot dalam negeri. Wakil Menteri Moon Ji-sung yang turut hadir mengatakan, โKami sedang mengkaji langkah-langkah untuk mendorong perpindahan tersebut.โ
Langkah Seoul ini tidak terlepas dari dinamika regional. Jepang, yang juga menghadapi tekanan spekulatif terhadap yen, dilaporkan mulai beralih ke taktik agresif tanpa target tertentu untuk menjerat para spekulan. Kondisi ini menambah urgensi bagi Korea Selatan untuk mengamankan stabilitas pasar keuangannya. Depresiasi won yang berkepanjangan menjadi sakit kepala tersendiri bagi otoritas moneter, terutama karena pergerakan mata uang tidak sejalan dengan kinerja bursa saham yang justru reli.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Sebagai sesama negara emerging market di Asia, pelemahan won dan yen dapat memicu tekanan kompetitif terhadap nilai tukar rupiah. Jika Korea dan Jepang melakukan intervensi besar-besaran, arus modal bisa bergeser dan mempengaruhi stabilitas regional. Bank Indonesia pun perlu mewaspadai potensi efek rambatan, terutama jika spekulan mulai mengincar mata uang Asia lainnya.
Huh menekankan bahwa pemerintah siap mengerahkan segala instrumen yang diperlukan untuk menjaga pasar dolar-won tetap tertib. Namun, ia tidak memberikan rincian mengenai bentuk intervensi yang mungkin dilakukan. Para analis memperkirakan bahwa Seoul dapat menjual cadangan devisa atau memperketat aturan perdagangan valas jika tekanan berlanjut.
Ke depan, efektivitas perluasan jam perdagangan menjadi ujian krusial. Apakah langkah ini cukup untuk menarik likuiditas dari pasar NDF dan mengurangi volatilitas? Atau justru akan membuka celah baru bagi spekulan? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan valas Korea Selatan dalam beberapa bulan mendatang.



