IHSG Terperosok 1% di Sesi II, Saham Perbankan Jadi Pemberat Utama
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 1% pada perdagangan Senin (29/6/2026) akibat tekanan jual di sektor perbankan.
- Saham BBCA menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 14,05 poin, diikuti SMMA, BBRI, dan BMRI.
- Pemerintah dan DPR menyepakati pengembalian dana Rp281 triliun ke Himbara serta menyiapkan Rp100 triliun untuk menjaga likuiditas perbankan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles lebih dari satu persen pada pertengahan sesi kedua perdagangan Senin (29/6/2026), dipicu aksi jual besar-besaran di saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Pada pukul 14.13 WIB, indeks tercatat turun 66,77 poin atau 1,13% ke level 5.829,36, membalikkan penguatan awal yang sempat menyentuh 5.942,77.
Data bursa menunjukkan sebanyak 444 saham berada di zona merah, sementara 218 saham menguat dan 297 lainnya stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp4,87 triliun dengan volume 8,24 miliar saham dalam 812.300 kali transaksi. Tekanan jual terutama terfokus pada emiten perbankan, di mana BBCA menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,43% dan berkontribusi negatif sebesar 14,05 poin terhadap IHSG.
Selain BBCA, saham Sinar Mas Multiartha (SMMA) juga menjadi pemberat signifikan dengan kontribusi -6,41 poin. Emiten lain yang ikut menekan indeks antara lain BBRI, TLKM, BREN, BMRI, dan BRPT. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen negatif masih mendominasi pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di sisi fundamental, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menggelar pertemuan pagi tadi yang dihadiri Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, Mensesneg Prasetyo Hadi, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, serta sejumlah pejabat Bank Indonesia dan Dewan Ekonomi Nasional. Hasilnya, disepakati fokus kebijakan jangka pendek untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat, yang terancam oleh tekanan ekonomi global dan konflik Timur Tengah.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengumumkan bahwa pemerintah akan mengembalikan dana Rp281 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan memperpanjang penempatannya hingga akhir 2026. Selain itu, disiagakan dana Rp100 triliun untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas perbankan yang mendesak. Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan sektor perbankan yang menjadi tulang punggung pasar modal.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu menekankan bahwa pengendalian inflasi dan daya beli menjadi prioritas utama karena ketidakpastian harga komoditas, terutama minyak, akibat konflik di Timur Tengah. "Kita sudah lihat dari ketidakpastian global seperti harga minyak yang pengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat," ujarnya dalam konferensi pers.
Bagi investor Indonesia, pelemahan IHSG kali ini mengirim sinyal waspada. Meski pemerintah telah menyiapkan bantalan likuiditas, sentimen eksternal masih menjadi momok. Pertanyaannya, akankah langkah-langkah fiskal dan moneter ini cukup untuk membendung arus jual asing dan memulihkan kepercayaan pasar dalam waktu dekat?



