Lautaro Martinez Akhirnya Cetak Gol di Piala Dunia 2026, Nico Paz Debut Starter
Baca dalam 60 detik
- Lautaro Martinez memecah kebuntuan dengan gol penalti di laga Argentina vs Yordania pada fase grup Piala Dunia 2026.
- Lionel Messi yang turun dari bangku cadangan mencetak gol keenamnya di turnamen ini, menyamai rekor pencetak gol terbanyak fase grup sepanjang sejarah Piala Dunia.
- Nico Paz menjalani start perdana di Piala Dunia di tengah saga transfer rumit yang melibatkan Real Madrid, Como, dan Inter Milan.

Kapten Inter Milan, Lautaro Martinez, akhirnya membuka keran golnya di Piala Dunia 2026. Penalti pada menit ke-31 menjadi gol pertama sang striker di turnamen ini, membantu Argentina mengalahkan Yordania 3-1 pada laga pamungkas Grup J, Rabu (24/6) waktu setempat. Kemenangan itu memastikan La Albiceleste menyapu bersih tiga pertandingan penyisihan dengan poin sempurna.
Martinez menjadi starter di tiga laga grup, namun baru di pertandingan ketiga ia mencatatkan nama di papan skor. Gol tersebut sekaligus menjawab kritik yang sempat dialamatkan padanya usai tampil kurang tajam di dua laga sebelumnya. Pelatih Lionel Scaloni tetap mempercayainya sebagai ujung tombak, dan kepercayaan itu terbayar saat Martinez sukses mengeksekusi penalti setelah Paulo Dybala dilanggar di kotak terlarang.
Lionel Messi, yang biasanya menjadi algojo penalti utama Argentina, memulai laga dari bangku cadangan. Scaloni sengaja merotasi skuad setelah Argentina memastikan diri sebagai juara Grup J sebelum pertandingan. Namun, saat turun di babak kedua, Messi langsung menunjukkan taringnya. Pemain berusia 39 tahun itu mencetak gol keenamnya di Piala Dunia 2026, sebuah torehan yang—jika hanya dihitung dari fase grup—sudah cukup untuk merebut Sepatu Emas di 10 dari 12 edisi Piala Dunia sebelumnya. Konsistensi Messi di usia senja menjadi pembicaraan hangat, terutama karena ia masih menjadi motor serangan Argentina meski perannya perlahan bergeser menjadi supersub.
Di sisi lain, ketidakhadiran Messi di starting eleven membuka peluang bagi Nico Paz, gelandang serang Como yang baru berusia 21 tahun, untuk menjalani debut starter di Piala Dunia. Pemain jebolan akademi Real Madrid itu tampil selama 65 menit sebelum digantikan. Penampilannya cukup impresif dengan beberapa umpan kunci, meski belum mampu mencetak gol atau assist. Namun, yang lebih menarik perhatian adalah saga transfer yang membayangi Paz. Menurut laporan media Italia dan Spanyol, Real Madrid berencana mengaktifkan klausul pembelian kembali sebesar €9 juta, lalu Como akan segera membelinya lagi dengan harga €60 juta—total transaksi mencapai €69 juta. Langkah ini memungkinkan Como mempertahankan Paz tanpa melanggar aturan Financial Fair Play, meski klub Serie A tersebut tengah dalam pengawasan karena potensi pelanggaran batas pengeluaran.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga Nico Paz menjadi pengingat betapa rumitnya bisnis transfer pemain muda di Eropa. Strategi Como yang berani menggelontorkan dana besar untuk pemain yang baru setahun membela mereka menunjukkan ambisi klub promosi tersebut untuk bersaing di level tertinggi. Sementara itu, Argentina sebagai juara bertahan Piala Dunia terus menunjukkan kedalaman skuad yang luar biasa. Dengan Messi yang masih produktif dan Martinez yang mulai menemukan sentuhan gol, La Albiceleste layak diperhitungkan sebagai kandidat kuat juara.
Pertanyaan selanjutnya: akankah Martinez mampu mempertahankan performanya di fase gugur? Atau justru Messi yang akan kembali menjadi andalan utama? Satu hal yang pasti, Argentina memiliki dua senjata mematikan yang siap digunakan kapan saja.



