Ben Stokes Pensiun dari Timnas Inggris: 'Keputusan Terbaik untuk Saya'
Baca dalam 60 detik
- Kapten Inggris Ben Stokes mengumumkan pensiun dari kriket internasional setelah 15 tahun berkarier, dengan pertandingan terakhir melawan Selandia Baru.
- Keputusan ini dipicu oleh kelelahan fisik dan mental, diperparah oleh cedera beruntun dan insiden di klub malam London.
- Stokes akan melanjutkan karier di kriket domestik bersama Durham, dan mengaku puas dengan pencapaiannya termasuk tiga gelar bergengsi.

Ben Stokes, kapten tim kriket Inggris, secara mengejutkan mengumumkan pensiun dari kriket internasional pada hari keempat pertandingan penentu melawan Selandia Baru di Trent Bridge. Pemain berusia 35 tahun yang dianggap sebagai salah satu kriket terbaik Inggris itu menegaskan bahwa keputusan ini adalah yang terbaik bagi dirinya saat ini, setelah melalui pertimbangan panjang sejak kekalahan Ashes di Australia.
Stokes mengungkapkan bahwa ia telah memikirkan pensiun sejak Inggris kalah 4-1 dari Australia dalam seri Ashes, dan semakin kuat saat pertandingan pertama musim panas di Lord's. "Pertandingan Lord's memunculkan perasaan negatif tentang karier saya. Saya bekerja keras sejak pulang dari Australia untuk memperbaiki keadaan, tapi justru kelelahan," ujarnya kepada Sky Sports. Meskipun demikian, ia membantah bahwa keputusan ini langsung dipicu oleh insiden klub malam yang membuatnya absen pada tes kedua melawan Selandia Baru, meski mengakui kejadian itu "menambah" beban pikirannya.
Keputusan pensiun diambil Stokes saat bersiap memukul di inning pertama Trent Bridge pada Sabtu. Ia memberi tahu mantan kapten Joe Root dan wakil kapten Harry Brook pada Sabtu malam, lalu mengumumkannya ke seluruh tim pada Minggu pagi. "Ini adalah empat atau lima minggu yang menarik, mungkin enam bulan secara umum. Ada berbagai emosiโlega, bahagia, sedih. Semuanya bercampur," tambahnya.
Stokes juga menyoroti beban fisik dan mental yang berat sebagai kapten. "Ini brutal, secara fisik dan mental. Semakin melelahkan di usia 35 tahun, saya harus melakukan banyak kerja fisik untuk tetap bertahan," katanya. Pada 2021, ia sempat mengambil jeda untuk memprioritaskan kesehatan mental. Keluarganya, terutama istrinya, melihat sisi lain yang tidak tampak di publik: "Mereka melihat bagian yang menguras tenaga dan berdampak negatif."
Meski pensiun dari tim nasional, Stokes akan terus bermain untuk Durham, klub masa kecilnya. Saat absen pada tes kedua, ia bermain untuk Durham dan menemukan semangat baru. "Saya sangat bersemangat untuk bagian selanjutnya. Kembali bermain untuk Durham, saya bandingkan minggu ini dengan minggu ituโsekarang saya bersemangat, tapi ada momen yang sangat berat," ujarnya.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, pensiunnya Stokes menandai berakhirnya era seorang pemain yang dikenal dengan kegigihan dan momen-momen heroik. Meski kriket belum sepopuler di Tanah Air, prestasi Stokes menjadi inspirasi bagi atlet muda yang bermimpi menembus level tertinggi. Ke depannya, Inggris harus mencari kapten baru yang mampu mengisi kekosongan kepemimpinan dan performa all-rounder seperti Stokes.
Stokes mengaku puas dengan pencapaiannya: juara Ashes, Piala Dunia 50-over, dan Piala Dunia T20. "Saya juga mendapat kesempatan memimpin tim dan bermain bersama pemain terbaik. Tidak banyak yang bisa saya keluhkan," pungkasnya. Pertanyaan kini beralih: mampukah Inggris mempertahankan identitas agresif tanpa sosok sentral seperti Stokes?



