Piala Dunia 2026: Los Angeles Buktikan Transportasi Umum Bisa Jadi Andalan
Baca dalam 60 detik
- Ribuan penggemar sepak bola di LA beralih ke bus dan kereta khusus Piala Dunia, mengurangi kemacetan dan biaya parkir.
- LA Metro melayani lebih dari 20.000 penumpang per pertandingan, dengan satu laga mencatat 52.000 pengguna transit.
- Keberhasilan ini bisa menjadi model bagi kota-kota besar lain, termasuk Jakarta, dalam mengelola acara massal.

Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia 2026, Los Angeles—kota yang identik dengan jalan tol dan budaya mobil—menunjukkan wajah baru: ribuan penggemar sepak bola dari berbagai negara justru memadati stasiun kereta dan halte bus, meninggalkan kendaraan pribadi mereka. Fenomena ini menjadi bukti bahwa transportasi umum bisa menjadi tulang punggung mobilitas dalam ajang olahraga terbesar di dunia.
Setiap hari pertandingan, Stasiun Union Station di pusat kota LA berubah menjadi pusat keramaian. Pengunjung yang kebingungan langsung disambut oleh "duta" yang siap mengarahkan mereka ke bus khusus menuju Stadion Inglewood, atau ke zona penggemar di dalam dan luar stasiun bergaya Art Deco. Bahkan, bagi yang merasa stres atau kepanasan, tersedia "pod penenang" dan pusat hidrasi. Armando Roman, manajer kelompok hak sipil, kesetaraan rasial, dan aksesibilitas LA Metro, mengungkapkan bahwa stasiun juga digunakan untuk berdoa, menyusui, dan berbagai keperluan lain.
LA Metro sebenarnya tidak meraup untung besar dari Piala Dunia. Tarif rendah, perekrutan ratusan staf tambahan, bus berlapis livery Piala Dunia, serta pengaturan lalu lintas dan keamanan di sekitar stadion membuat biaya operasional membengkak. Namun, bagi otoritas transit ini, momen Piala Dunia adalah bagian dari strategi jangka panjang: membangun program infrastruktur transportasi paling ambisius di Amerika Serikat.
Para penggemar yang diwawancarai mengaku lebih memilih transportasi umum daripada menyewa mobil atau membayar parkir hingga $200 di dekat stadion. Crystal Gristina, 46, asal New Orleans, yang datang bersama keluarga ke pertandingan AS vs Turki, berkata, "Kami tidak ingin macet, dan ini jauh lebih murah." Brandon Luna, 29, dari San Diego, yang naik Amtrak bersama pamannya, menambahkan, "Di kereta Anda bisa santai, minum, dan melihat lautan lewat." Bahkan Brian Stanton, 51, yang awalnya skeptis terhadap transportasi umum di California Selatan, mengaku perjalanan dengan kereta sangat menyenangkan, apalagi melihat sesama penggemar AS berdandan seperti George Washington.
Di dalam Union Station, ratusan pendukung Kolombia dan Jerman bersorak-sorai menonton pertandingan di layar raksasa Zona Penggemar. Banyak dari mereka tidak pergi ke stadion, tetapi datang ke pusat kota untuk merasakan atmosfer Piala Dunia secara kolektif. Jorge Yunda, 45, warga Amerika keturunan Ekuador, datang bersama keluarga besarnya. "Kami hanya ingin merasakan semangat Piala Dunia, festival penggemar, dan kegembiraan. Sebagai orang Amerika Selatan, kami merasakan gairah ini," ujarnya.
Keberhasilan LA dalam mengalihkan penggemar ke transportasi umum selama Piala Dunia memberikan pelajaran berharga bagi kota-kota besar lain, termasuk di Indonesia. Jakarta, yang kerap dilanda kemacetan parah saat acara olahraga atau konser, bisa meniru model ini: menyediakan bus khusus, stasiun yang ramah pengunjung, dan tarif terjangkau. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap belajar dari Los Angeles untuk mengelola mobilitas massal di masa depan?



