Pelatih Iran Kecam Pembatasan Perjalanan AS: 'Kami Diperlakukan Tidak Adil'
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Iran Amir Ghalenoei mengecam pembatasan perjalanan AS yang memaksa timnya mondar-mandir antara Meksiko dan AS selama Piala Dunia 2026.
- Ghalenoei menilai kebijakan itu merugikan persiapan fisik dan mental tim, meski AS sedikit melonggarkan aturan untuk laga melawan Mesir.
- Insiden ini memicu pertanyaan tentang netralitas tuan rumah dan perlindungan terhadap tim peserta di turnamen global.

Pelatih tim nasional Iran, Amir Ghalenoei, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan pembatasan perjalanan yang diterapkan Amerika Serikat setelah timnya bermain imbang 1-1 melawan Mesir di Piala Dunia 2026, Jumat (26/6) waktu setempat. Menurutnya, perlakuan tuan rumah terhadap skuad asuhannya jauh dari kata adil dan berdampak langsung pada performa di lapangan.
Iran harus menjalani tiga pertandingan fase grup dengan basis di Meksiko, lalu terbang ke AS untuk setiap laga. Untuk pertandingan melawan Mesir di Seattle, AS memang melonggarkan aturan dengan mengizinkan tim tiba dua hari lebih awal. Namun, Ghalenoei menilai itu tidak cukup. “Seandainya kami diizinkan datang dua minggu sebelumnya untuk persiapan yang lebih matang, kondisi fisik dan mental kami akan jauh lebih baik. Tapi mereka merampas keadilan itu dari kami,” ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan.
Ketegangan antara Washington dan Tehran yang memanas akibat perang selama hampir empat bulan menjadi latar belakang pembatasan tersebut. Pada Maret lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran tetap boleh berpartisipasi, namun ia menganggap tidak pantas jika mereka tinggal di AS di antara pertandingan demi “keselamatan dan keamanan mereka sendiri.”
Di atas lapangan, Iran nyaris memastikan tiket ke babak gugur setelah Shoja Khalilzadeh mencetak gol di masa injury time. Namun, sorak sorai suporter Iran berubah menjadi kekecewaan setelah VAR menganulir gol karena offside. “Saya dulu mengira kami adalah tim yang tertindas, tapi setelah tiga pertandingan ini, saya sadar kami juga punya nasib buruk,” keluh Ghalenoei.
Ia pun mendesak FIFA untuk tidak membiarkan tuan rumah memperlakukan tim peserta dengan cara serupa di Piala Dunia mendatang. “Saya mendesak FIFA: jangan biarkan tuan rumah memperlakukan pemain dan tim seperti ini lagi,” tegasnya.
Usai laga, Iran harus terbang kembali ke Tijuana, Meksiko, yang menurut Ghalenoei menunda pemulihan pemain. Di Meksiko—yang menjadi tuan rumah bersama AS dan Kanada—tim masih menunggu kepastian lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah. “Tim datang dengan misi suci: berlatih dan bermain dengan baik. Jika Tuhan mengizinkan kami lolos, saya akan memberi mereka satu hari untuk pemulihan yang layak, mungkin pergi ke pantai untuk relaksasi mental,” kata Ghalenoei.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya netralitas tuan rumah dalam ajang olahraga global. Meski tidak terlibat langsung, pengalaman Iran menunjukkan bahwa faktor politik dan keamanan dapat mengganggu esensi kompetisi. Ke depannya, FIFA perlu meninjau ulang kebijakan tuan rumah untuk memastikan perlakuan setara bagi semua peserta, terlepas dari hubungan diplomatik antarnegara.



