Gol di Piala Dunia Tak Mampu Redam Duka: Kisah Cody Gakpo yang Menggetarkan
Baca dalam 60 detik
- Cody Gakpo mencetak gol untuk Belanda melawan Maroko di Piala Dunia, namun langsung runtuh menangis mengenang bayi lelakinya yang meninggal dalam kandungan.
- Kapten Belanda Virgil van Dijk menegaskan bahwa sepak bola hanyalah sekunder di hadapan tragedi pribadi seperti yang dialami rekan setimnya.
- Momen haru ini mengingatkan bahwa di balik gemerlap turnamen global, ada duka yang tak terukur yang harus dihadapi para pemain.

Air mata Cody Gakpo yang pecah setelah mencetak gol pembuka untuk Belanda melawan Maroko di Piala Dunia menjadi pengingat bahwa sepak bola, betapapun megahnya, tak mampu menutupi luka kehilangan yang paling pribadi. Striker Belanda itu baru saja kehilangan bayi lelakinya yang belum lahir bersama pasangannya, Noa van der Bij, beberapa hari sebelum pertandingan.
Dalam laga babak 32 besar di Monterrey, Meksiko, Gakpo sukses menjebol gawang Maroko pada babak pertama. Namun alih-alih selebrasi penuh suka cita, ia justru jatuh tersungkur di lapangan dan menangis histeris. Rekan setimnya yang semula bersorak langsung berubah sikap, mendekat untuk menenangkan, menunjukkan empati yang mendalam. Momen itu terekam kamera dan menyentuh hati para penonton di stadion maupun di layar kaca.
Sehari sebelum laga, kapten Belanda Virgil van Dijk sudah mengisyaratkan situasi pelik yang dihadapi Gakpo. โIni berita yang mengerikan, dan menunjukkan bahwa sepak bola itu nomor dua. Ada hal-hal yang lebih penting dalam hidup,โ ujar van Dijk kepada wartawan. Pernyataan itu menjadi konteks yang membuat reaksi Gakpo di lapangan semakin bermakna.
Pertandingan sendiri berakhir dramatis. Maroko menyamakan kedudukan di menit akhir dan akhirnya menang lewat adu penalti. Belanda tersingkir, namun tangisan kekalahan itu tak sebanding dengan duka yang dibawa Gakpo. Gambar televisi juga memperlihatkan orang tua Gakpo di tribun yang tak kuasa menahan air mata.
Di media sosial, Noa van der Bij mengunggah foto tangan mereka berdua yang menggenggam selimut dan topi rajutan kecil. โDengan patah hati, kami membagikan kabar menghancurkan bahwa bayi lelaki kami meninggal saat kehamilan,โ tulisnya. โTerima kasih atas cinta dan dukungan kalian. Elijah Raphael Gakpo. Selamanya dicintai. Selamanya putra kami.โ Ia juga memposting foto lilin dan salib, serta menulis bahwa mereka pergi ke gereja untuk menyalakan lilin dan berjalan ke taman bermain gereja bersama putra mereka, Samuel.
Gakpo sendiri meminta privasi melalui unggahan di media sosial: โIni adalah masa yang sangat sulit bagi keluarga kami. Kami mohon pengertian dan ruang pribadi. Terima kasih.โ
Kisah Gakpo mengingatkan bahwa di balik gemerlap Piala Dunia yang disaksikan miliaran orang, para pemain tetaplah manusia dengan beban kehidupan nyata. Bagi publik Indonesia yang mencintai sepak bola, momen ini bisa menjadi refleksi bahwa atlet juga rentan terhadap tragedi pribadi. Dukungan terhadap mereka di luar lapangan sama pentingnya dengan sorakan di tribun.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana Gakpo akan bangkit dari keterpurukan ini. Akankah ia mampu kembali fokus pada karier sepak bolanya, atau justru membutuhkan waktu lebih panjang untuk memulihkan diri? Yang jelas, duka yang ia bawa akan terus menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, jauh melampaui skor akhir pertandingan mana pun.



